Feminisme dalam Sudut Pandang Filsafat

Oleh: Nasir Ahmad Khan Saragih
Psikologer.com - Filsafat adalah keterkaitan ilmu mengenai hakikat terdalam segala sesuatunya dalam penerapan prosedur yang keilmiahan, yaitu metode logis, analitis, untuk memanfaatkan bahan-bahan dan hasil-hasil pemikiran yang baik. Karena dalam tujuannya untuk memahami hakikat terdalam sesuatu tersebut.

Sebagaimana dengan pemikiran yang hakiki dan baik. Terkadang disebutkan juga berpikir secara radikal atau radix yang memiliki makna akar maka dalam berpikir filsafat harus menggali dengan sedalam-dalamnya sampai ke akar tersebut. Dalam filsafat, kita selalu bisa menemukan pandangan yang baru yang berkaitan tentang masalah apapun.

Menurut Kaum feminis radikal, meskipun banyak meminjam jargon marxisme, namun tidak menggunakan secara sungguh-sungguh. Bagi mereka penindasan perempuan sejak awal adalah didominasi kaum laki-laki, dan penguasaan fisik perempuan didominasi juga oleh kaum laki-laki, hal ini dianggap sebagai bentuk dasar penindasan menurut Jaggar. Dalam patriarki, yakni ideologi kelelakian dimana seorang laki-laki dianggap mempunyai kekuasaan superior dan ekonomi adalah akar masalah perempuan menurut Einstein.

Dalam menjelaskan penyebab penindasan perempuan kebanyakan menggunakan pendekatan historis, dalam patriarki dianggap sebagai masalah universal dan mendahului segala bentuk dalam penindasan tersebut. Dalam mereduksi hubungan gender pada perbedaan natural dan biologi. Dan karena itu, mereka melawan segala sesuatu maupun bentuk kekerasan seksual maupun pornografi. Bagi kaum feminis radikal revolusi ini berkembang pada setiap pemikiran sosial perempuan dan pemikiran individu seorang perempuan. Hal ini terjadi pada perempuan yang mengambil tindakan untuk memperbaiki kehidupannya dalam pengalaman terhadap hubungan mereka sendiri. Penindasan ini bersifat subyektif individual terhadap perempuan.


Dalam beberapa pandangan seorang wanita, mereka ingin disamakan dengan kelas gendernya, mulai dari kesamaan ekonomi, politik, sosial maupun didalam kekeluargaan sekalipun. Dalam hal ini memiliki beberapa contoh pendapat:

Pertama, dalam bidang ekonomi, seorang wanita, mereka ingin memenuhi kebutuhannya sendiri dengan cara tidak lagi mengharapkan hasil kerja dari seorang suaminya, dan wanita ini juga, mereka menginginkan kecukupan hidup yang lebih dibandingkan dari pemberian yang diberikan secara bulanan.

Kedua, dalam bidang politik, seorang wanita menginginkan berdiri tegak tanpa harus menunggu perintah dari seorang suami atau atasan dan seorang wanita juga mengharapkan jabatan yang baik di atas pimpinan kerja ataupun suaminya sendiri. Seperti halnya presiden wanita yang ada di Indonesia.

Ketiga, dalam bidang sosial, ketakutan wanita di dalam kehidupan yang sosial yaitu; dikarenakan seorang wanita masih juga takut terhadap seorang laki-laki, jikalau wanita berjalan sendiri di luar rumah, hal inilah yang menyebabkan seorang wanita menginginkan tingkat sosial yang setara atas gendernya dengan laki-laki, agar setiap gerak-gerik kegiatan yang dilakukan di luar rumah dapat sebagai acuan perubahan atas kelas gendernya.

Keempat, kesetaraan gender dalam rumah tangga juga dibutuhkan dalam kelas gender perubahan seorang wanita dalam berhubungan badan ataupun kebutuhan biologis, agar dapat berkompetisi dengan laki-laki.

Tidak mudah mencari titik persamaan dan perbedaan antara teori feminisme yang ada, banyak juga teorinya yang tumpang tindih, namun ada satu kesamaan umum dari teori-teori yang ada, yaitu asumsi yang dipakai tentang teori sistem patriarki, teori ini dinilai negatif, dimana ideologi ini telah menempatkan perempuan pada posisi subordinat, yang artinya posisi perempuan ada di bawah posisi laki-laki.

Tetapi para feminis melakukan penolakan terhadap sistem patriarki, dengan melakukan transformasi sosial dengan melakukan perubahan eksternal yang revolusioner. Bahwa para perempuan perlu masuk kedalam dunia laki-laki, agar kedudukannya setara dengan status laki-laki. Filsafat Eksistensialisme telah banyak diaplikasikan sebagai pembenaran yang premis bahwa tidak ada perbedaan fitrah laki-laki dan perempuan.

Karena itu perempuan perlu disosialisasikan agar karakter perempuan seperti karakter laki-laki. Kelompok ini juga percaya pada pemahaman deterministik biologi, yaitu menegaskan yang membedakan kealamian antara laki-laki dan perempuan, sehingga ada yang disebutkan sebagai kualitas feminim dan maskulin.

“ketika perempuan bicara, memberi rasa, luka dan mungkin bahagia”

2 Responses to "Feminisme dalam Sudut Pandang Filsafat"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel