Yang Harus Kamu Pelajari Sebelum Menjalani Leadership

Oleh: Nasir Ahmad Khan Saragih
Psikologer.com - Kamu ingin menjadi pemimpin atau menjadi leader yang berguna, maka sebelum itu kamu harus mempelajari hakikat - hakikat untuk menjadi seorang pemimpin atau leader agar kepemimpinanmu berjalan dengan kooperatif, kredibel dan berkualitas. Dan dilain sisi kamu bisa menghadapi segala situasi yang datang disaat masa kepemimpinanmu. Berikut adalah hakikat-hakikat untuk menjadi pemimpin atau leader.

1. Fungsi memimpin harus dibedakan secara tajam dengan fungsi memerintah, mengepalai atau mengadili. Pejabat kepala jawatan, kepala perusahaan, hakim, sesepuh, niniak mamak sehari-harinya menjalankan wewenangnya sebagai kepala secara rutin (pada umumnya). Si Pejabat atau Kepala perusahaan menerima perintah atau petunjuk dari atas dan memberi atau meneruskan perintah itu ke bawah. Si-Hakim atau si Ninik mamak memberi hukum dengan menerapkan sebuah aturan yang bersumber kepada seperangkat hukum terhadap suatu kasus yang muncul, kasus sama, keputusan sama. Dalam masa damai seorang Komandan pasukan tidaklah berfungsi memimpin karena yang diperintahkan sehari-hari berdasarkan seperangkat aturan tata tertib militer. Di dalam medan perang barulah ia berfungsi memimpin karena di dalam medan perang yang dilakukan bukanlah tindakan-tindakan rutin melainkan harus menghadapi kejadian-kejadian yang tidak terduga.
2. Memimpin tidaklah berbekalkan seperangkat aturan yang tinggal diterapkan saja. Memimpin pada umumnya adalah menghadapi dan harus menemukan jawaban atas persoalan-persoalan baru yang sering belum ada presedennya. (Preseden-kasus yang sebelumnya pernah terjadi), bahkan yang terjadi hanya sekali, sehingga keputusan yang diambil atas persoalan yang muncul itu bukan saja harus dipikirkan matang-matang tetapi juga harus tepat, sebab kalau meleset atau gagal tidak dapat diulang karena terjadinya sering-sering “einmalig” (sekali).

3. Memimpin pada umumnya menemukan jawaban atas persoalan baru, sehingga memimpin dapatlah dikatakan sinonim atau identik dengan merintis jalan perubahan/pembaharuan. Masalah leadership karenanya tidak timbul dalam masyarakat yang tradisional dan statis yang kehidupannya dari tahun ke tahun bersifat rutin bagi adat itu ke adat itu lagi. Dalam masyarakat begitu, status quo (keberadaan negara) adalah menjadi tujuan sendiri dan setiap perubahan/pembaharuan adalah hal yang tabu didalam masyarakat tradisional dimana “the existing existence is an end in itself” (eksistensi yang ada merupakan tujuan sendiri), munculnya leadership yang identik dengan pembaharuan akan terasa sebagai gangguan terhadap tatanan yang ada (the existing establishment). Pada mulanya tatanan yang ada dapat saja mempertahankan status quo, tetapi akhirnya pembaharuan juga yang berhasil menerobos, karena pembaharuan pada dirinya adalah justru merupakan syarat untuk berkesinambungan.

4. Leadership selalu pro generasi muda, karena generasi muda adalah sarana kesinambungan. Sikap curiga atau menjauhi generasi muda adalah pertanda leadership yang tidak baik. Mengendalikan generasi muda adalah ungkapan lain dari sikap mencurigai generasi muda. Karena dikendalikan, generasi muda tidak akan mampu mewarisi leadership hari depan, pengendalian generasi muda jadinya sama dengan tidak menciptakan sarana kesinambungan.

5. Karena leadership adalah selalu berkaitan dengan dinamika dan pembaharuan, leadership berarti kemampuan menghadapi setiap pergolakan yang penuh dengan persoalan-persoalan baru yang masing-masing menuntut jawaban dengan pemecahannya. Kemampuan sedemikian ini terutama dibawa oleh bakat yang dibawa orang seorang dan tidak dapat diajarkan, tetapi kalau bakat itu tampak ada dapat dan harus dikembangkan dan dibina. Leadership adalah seni, dapat di-upgrade dan dikultivir, tetapi tanpa ada benih-bakat tidaklah dapat diprodusir. A leader is born and vultivated, not made.

6. Karena leadership selalu menghadapi dinamikanya perubahan-perubahan, hasil suatu leadership tidaklah dapat ditentukan secara pasti, walau dapat diperkirakan. Leadership hampir selalu mengandung faktor spekulatif yang mengandung resiko, tetapi resiko yang diperhitungkan (calculated risk); leadership memang tidak bersifat teknis – matematis – eksak.

 “relasi di mana batas-batas setiap objektivitas ditampilkan antagonisme, sebagai saksi atas kemustahilan mencapai suatu jahitan rapat penghabisan, adalah ‘pengalaman’ akan batas-batas lingkup sosial” 

3 Responses to "Yang Harus Kamu Pelajari Sebelum Menjalani Leadership"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel