Reputasi Sangat Penting Untuk Membangun Sebuah Kepercayaan (The Cybertruck Story)

Oleh: Ade Naro Harahap
Psikologer.com - The Cybertruck Story, Produk yang saat launching gagal, tetapi penjualan tetap meledak, bagaimana bisa ?

Ini adalah tentang produk "Cybertruck" hasil inovasinya Elon Musk yang gagal. Iya gagal, fatal sekali. Ini adalah ekspresi Elon Musk di foto wajahnya merah karena menahan malu.
Asli dan gak dibuat-buat, bukan gimmick ala-ala marketing kaleng-kaleng.

Ceritanya Elon Musk mengumumkan pada publik produk terbaru Tesla, dari desain studionya di Los Angeles, Amerika Serikat, tanggal 21 November 2019 lalu. Kejadian ini terjadi saat Elon mempertontonkan ketangguhan truknya Tesla yang desainnya sangat "out of the box" itu. Elon mempertontonkan perbedaan tingkat kekerasan antara body truk biasa dan Cybertruck. Ia demokan dengan memukul langsung pintu depan dengan sledge hammer atau palu godam.

Body truk biasa langsung penyok kena satu hantaman palu godam. Body Cybertruck merasakan hantaman yang sama, tapi tetap kokoh dan bahkan seperti tak tergores sama sekali. Demo disesi ini sukses. Belum pernah ada body truk dibuat sekokoh ini. Alhasil, hadirin pun takjub dibuatnya. Kekaguman penonton dan "tesla mania" tak berhenti disitu saja.

Elon dan team-nya kemudian mendemokan "Tesla Glass" yang melengkapi komponen kaca dari Cybertruck. Tesla Glass ini adalah kaca hasil riset tim RnD-nya Tesla yang kekuatannya tidak kalah gahar dengan body truk tadi. Cara mengujinya pun cukup ekstrim. Kepingan Tesla Glass ini akan dijatuhi langsung dengan bola baja.

Perbandingannya di demokan dengan jelas, kaca truk biasa pasti langsung retak dihantam bola baja. Tapi kepingan Tesla Glass tak retak sedikitpun dihantam bola baja, bahkan ketika bola tersebut dijatuhkan dari ketinggian. Tesla Glass tetap kokoh, hadirin pun terkesima dengan kualitas material kaca Cybertruck itu.

Tetapi, momen kritisnya terjadi disini.
Saat ia mempersilahkan penonton untuk melempar sendiri kaca jendela Cybertruck dengan bola baja. Dan ternyata kaca itu pun retak. Ya meskipun gak sampai benar-benar pecah total, tapi jelas kelihatan kalau kaca itu retak pas dititik benturan bola baja dengan kaca.

Sontak wajah Elon Musk memerah karena malu. Setengah tidak percaya Elon pun mempersilahkan si penonton tadi untuk melempar kaca jendela bagian belakang. Barangkali saja kali ini berhasil kacanya tidak pecah hingga rasa malunya sedikit terobati.

Apes buat Elon pada saat itu, kaca jendela belakang juga retak. Si pelempar yang sebenarnya juga fans berat Tesla itu ikut merasa bersalah, "apa saya melemparnya terlalu keras ?" 

Elon pun juga masih kebingungan, dan masih belum menemukan apa yang salah dengan demo ini, kenapa kacanya bisa retak. Di tengah kebingungan dan rasa penasarannya, meme yang membully dan mengolok-olok perkenalan produk yang gagal ini terlanjur viral dan menyebar keseluruh dunia. Elon tidak membela diri, dan ia tidak bisa menutupi rasa malu di wajahnya.

Event "Cybertruck Unveiled" yang mestinya menjadi momen terpenting pada rangkaian peluncuran produk terbarunya Tesla ternyata gagal. Meskipun tidak semua sesi demo gagal, tapi itu mencoreng dan mempermalukan Elon, Tesla dan Cybertrucknya.

Elon Musk, manusia yang mampu membuat roket peluncur satelit seperti Falcon 9 balik lagi mendarat sempurna di tempat pendaratan malah dipermalukan dan dibully netizen diseluruh dunia. Desain Cybertruck yang "aneh" dan ganjil pun ikut jadi bahan bully-an.

Tapi apakah penjualan Cybertruck juga langsung terdampak karena product launch yang gagal ini?
Ternyata tidak !

Secara berturut-turut Elon Musk memposting cuitan di akun Twitternya kalau truk cerdas yang dibandrol $ 39,900 atau 558 jutaan rupiah itu terjual 250 ribu unit. Jualan barang yang harganya setengah milyar lebih, ludes 250 ribu unit hanya dalam hitungan hari saja. Luar Biasa.

Tesla pun kuwalahan melayani pesanan Cybertruck.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin sebuah sebuah produk yang sesi produk launch nya gagal parah, tapi malah membuat penjualan meledak, laku keras. Tanpa paid advertising (iklan berbayar), tanpa bayar endorse, tanpa strategi marketing aneh-aneh, hanya demo produk, yang dilakukan sendiri oleh sang founder.

Banyak yang kemudian berspekulasi kalau retaknya kaca jendela Cybertruck pas dilempar bola baja itu adalah bagian dari gimmick, untuk membuat produknya viral lewat bully-an netizen. Tetapi para pemuja Tesla dan fans berat Elon Musk langsung bereaksi dan menolak mentah-mentah kalo itu adalah sebuah gimmick. Elon sendiri juga memposting "behind the scene" bagaimana jendela Cybertruck di uji dengan lemparan bola besi dan tidak retak sama sekali, malah bolanya yang terpental. Banyak ilmuwan yang akhirnya ikut mendukung Tesla ikut bersuara dan membuatkan analisa kenapa kaca Cybertruck itu bisa retak.

Mereka memberikan analisa kalau kaca jendela itu tidak tertahan sempurna akibat body truk yang sebelumnya dihantam dengan sledge hammer, dan penahan kaca di jendela itu jadi longgar. Beda dengan Tesla Glass yang tertahan ideal dan kokoh saat diuji terpisah dengan dijatuhi bola besi dengan gaya yang mestinya lebih besar dari lemparan biasa. Celah ini yang bikin kaca bergetar dan retak saat tertumbuk bola baja.

Elon Musk punya banyak pengagum berat yang paham benar karakter idolanya yang sangat perfeksionis itu. Kegagalan pas demo itu mereka anggap sebagai "kesalahan kecil" dan masih bisa dimaafkan. Lagipula mereka para netizen yang bully dan bikin viral kegagalan Elon ketika launching Cybertruck itu memang bukan "buyer persona" dan target idealnya Tesla. Makanya sama sekali tidak berpengaruh, product launching gagal tetapi penjualan tetep bisa meledak.

Segagal-gagalnya launching Cybertruck tetap tidak menurunkan kualitas Cybertruck dibanding para kompetitornya. Yaitu F150 punya Ford dan truk cerdas lainnya Rivian R1T yang ada Amazon dibelakangnya. Secara spek Cybertruck ini jauh lebih bagus dari F150-nya Ford dengan harga yang beda tipis, selisih $4 ribu dollar saja. Bahkan spek dan kecerdasan Cybertruck lebih unggul dibanding Rivian R1T-nya Amazon yang harganya hampir 2x lipat dari harga Cybertruck tersebut. Belum lagi pesona dan reputasi si "Iron Man" a.k.a Elon Musk yang banyak mempengaruhi keputusan pembelian para konsumen.

Inilah mengapa kita harus mati-matian membangun reputasi, baik reputasi founder sendiri, reputasi Brand maupun korporasi. Reputasi ini akan sangat membantu untuk menciptakan trust atau kepercayaan dari audiens. Banyak riset yang menyebutkan, reputasi founder, story tentang pendiri mempengaruhi 70% keputusan pembelian dari konsumen. Reputasi itu dibangun dari karya-karya, kalau dalam konteks ini produk yang fenomenal, yang diterima dan diakui pasar. Sebuah bisnis yang mendapat imbas positif dari reputasi itu tinggal melanjutkan dan menjaga ekspektasi pasar. Reputasi bisa menyelamatkan sebuah bisnis bahkan ketika kegagalan tak terduga terjadi saat product launch. Andai saja yang gagal tadi bukan Elon Musk, pasti ceritanya akan lain.

Tahun 2010 Steve Jobs juga pernah gagal saat mendemokan iPhone, karena sesi WiFi sudah penuh, Steve Jobs sendiri sampai kesulitan dapat koneksi. Tapi iPhone tetap laku keras dan jadi produk fenomenal pada tahun itu. Reputasi Steve Jobs menyelamatkan iPhone, disamping iPhone nya sendiri juga keren.

Sekali lagi reputasi menyelamatkan sebuah bisnis. Tapi membangun reputasi itu juga tidak mudah. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun reputasi? Kalo berapa lamanya tidak ada ukuran pasti dan tidak ada yang bisa memprediksi secara pasti. Tapi kalo diamati dari track record mereka-mereka yg paling dibilang ahli dibidangnya, mereka membangunnya bertahun-tahun, baru mencuat setelah produk yang dibesutnya sukses. Long road before "Overnight Success". Jalan panjang dan berliku sebelum nama mereka bener-bener mencuat.

Tapi paling tidak kita bisa memulainya. Sebagai entrepreneur fokus utama kita cuma satu sih, "memuaskan pelanggan dengan produk inovatif". Bagaimana menciptakan karya atau produk yang punya nilai tinggi dan memang dicari-cari customers. Seiring dengan makin populernya produk kita, reputasi itu akan terbentuk dengan sendirinya. Punya produk bagus saja tanpa marketing tidak akan cukup. Jago marketing saja tanpa punya produk yang bagus itu juga sia-sia. Kalo produk kita bagus banget, tinggal tunggu waktu saja untuk merebut hati market. Sebaliknya, jika kita jago promo, jago closing tapi produk nyampah, banyak cacatnya, tinggal tunggu waktu saja buat nyungsep lagi. Orientasi kita harus customers, makanya produk harus tepat sama kebutuhan customers. Ukuran bagus atau tidaknya sebuah produk paling enak dilihat dari tepat atau tidaknya nilai yang ditawarkan dengan apa kebutuhan pasar.

Produk yang tepat dan bisa diterima pasar adalah fase awal dari rangkaian strategi marketing. Dan itu juga merupakan titik awal untuk membangun sebuah reputasi. Reputasi ini sangat penting untuk membangun sebuah kepercayaan. Jika customer sudah percaya, kesalahan-kesalahan kecil yang kita buat tidak akan mempengaruhi keputusan pembelian. Bayangkan jika kita salah saja masih di maafkan dan tidak berpengaruh terhadap penjualan, bagaimana jika kita benar? Pasti akan gila lagi jualannya.

Jadi mulai dari sekarang, fokuslah membangun reputasi.

1 Response to "Reputasi Sangat Penting Untuk Membangun Sebuah Kepercayaan (The Cybertruck Story)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel