Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Waktu masih sekadar gebetan, rasa-rasanya ingin lekas pacaran. Lalu, dibukalah jalan pedekate dengan berbagai strategi. Tentu, dengan lama durasi yang telah ditargetkan, tidak seperti proyek pembuatan jalan di desa.

Sebab, pedekate tanpa perencanaan waktu cuma bakal mengancam kesejahteraan hidup sendiri, dibebani semakin banyak hal hal yang berkaitan dengan rindu atau patah hati. Belum lagi, persaingan ketat jika sasaran tembak banyak peminat. Harus pepet-pepetan walau dengan sahabat.

Nah, itu cerita cinta ala remaja dan mahasiswa yang baru lulus ospek. Kalau yang baru lulus wawancara kerja, beda lagi.
Lagi-lagi ada yang patah hati karena cinta. Tidak asing memang tapi selalu saja memiliki korban yang sangat banyak. Apa kalian juga begitu? oh.. No, stop it. Dunia tidak berhenti atau kasihan karena kamu patah hati hari ini, coba perhatikan kembali diri kamu sendiri. Kebanyakan dari kita mengalami yang namanya patah hati ketika masa PDKT atau pacaran. Cara mencintai seperti ini terdengar terlalu cepat. Sedang ketika kita berbicara tentang PDKT atau pacaran kita tidak boleh bicara tentang KEPEMILIKAN. Semua akan serba menjadi sulit saat kamu sudah jatuh cinta dan berkorban banyak ketika PDKT atau pacaran. Inilah penyebab utama banyak orang mengira tersakiti oleh cinta.

Kenapa orang merasa tersakiti oleh Cinta? Karena hasrat memiliki. Apa yang mereka rasakan sehingga mereka merasa tersakiti oleh cinta yang sebenarnya bukanlah CINTA tapi itulah yang disebut HASRAT. Cinta dan hasrat memiliki artian yang berbeda. Sekali lagi hasrat itu bukanlah cinta, yang membuat sakit hati adalah hasrat memiliki, hasrat melindungi, dan hasrat menjaga selamanya. Saya tidak berbicara tentang cinta sejati tetapi saya cuma bantu sedikit membuka logika mencintai dan hasrat memiliki, sebab dengan mengetahui keduanya kita bisa meminimalkan efek samping patah hati.

Hasrat lebih banyak bicara tentang kepuasan pribadi, sedang cinta mengutamakan kepentingan bersama, sama-sama sayang, sama-sama senang dan sama-sama berkorban. Cinta itu saling memiliki walau tak harus saling bersatu. Jadi saya kurang setuju dengan ungkapan cinta tak harus memiliki, tapi lebih tepat cinta tak harus menyatukan fisik tapi hati akan tetap saling memiliki.

Secara umum, bagi mereka yang mengaku dewasa, hakikat cinta adalah pernikahan. Bukan lagi pacaran. Tetapi, formatnya tetap sama, kan? Sama-sama menalar cinta dengan logika kepemilikan. Sama-sama menuntut agar nilai perorangan menjadi ‘kepunyaan’. Logika semacam ini tersirat dan terlantun dalam lagu Yovie and Nuno. Dia untukku, bukan untukmu. Dia milikku, bukan milikmu.

Logika percintaan yang demikian amatlah wajar sebagai praktik relationship-an.

Jangan-jangan… Ini salah satu alasan di balik statistik nikah muda yang melonjak? Asumsinya, semakin banyak populasi remaja yang tumbuh dewasa, semakin banyak yang jatuh cinta, semakin banyak yang takut kehilangan, semakin banyak yang memutuskan segera menikah! Tentu, setelah cukup usia perkawinan, meski belum cukup tabungan untuk satu kavling di perumahan.

Banyak orang pandai telah meninjau musabab maraknya tren kawin muda di kalangan masyarakat urban. Konon, salah satunya, adalah dampak dari radikalisme agama. Tapi, mereka lupa sisi psikologis yang satu itu, bahwa mereka yang kebelet kawin juga merasa terlalu takut kehilangan… pasangan.

Apakah semua ini gara-gara lagu Yovie and Nuno yang propagandis? Tanyakan pada rumput yang berjoget.

Tapi bisa dimaklumi sih, sebab pasangan adalah pelengkap hidup. Dalam kehidupan sosial primata manusia, pasangan hidup adalah salah satu elemen yang memiliki dasar sebagai fungsi sosial.

Dengan menikah, kita dianggap memiliki kehidupan normal dan beradab. Bersama pasangan, kita bisa berbagi cicilan rumah dan kendaraan. Bisa berbagi buku bacaan. Dan, yang paling penting, bisa wikwikwik (Ups terdeteksi sensor) tanpa dikatai “hamil duluan”. Sayangnya, banyak yang lupa bahwa dengan pasangan, kita juga bisa berbagi peran.

Ya, ya, ya… sepragmatis itu pernikahan, memang.

Seketika terlintas dipikiran saya, bayangan nenek-nenek yang rapuh karena osteoporosis duduk-duduk di beranda rumah hendak terpapar matahari pagi. Setahun kemudian divonis demensia dan sering lupa arah kamar mandi. Hmmm… sepertinya lebih sulit mencari kekasih di waktu jompo ketimbang di waktu jomblo.

Jadi, pasangan juga ibarat asuransi untuk masa tua. Orang-orang takut kehilangan asuransinya, maka cepat-cepat ia meminta negara dan agama mengesahkannya – sebegitu ia lulus wawancara kerja.

Oleh masyarakat milenial urban, alasan ini tampaknya gemar disamarkan. Menikah dianggap hal yang istimewa, sakral, bahkan prinsipil. Pertanyaan menikah atau belum pun dianggap pertanyaan sensitif yang menyinggung prinsip hidup seseorang.

Sementara, anak-anak muda di kota bicara asmara seolah-olah itu cinta. Menunaikan berahi seolah-olah mengungkapkan isi hati. Menikah seolah-olah bagian dari ibadah. Mari, menjadi jujur sajalah, menikah adalah kebutuhan orang-orang yang takut kesepian di masa tua, takut digeruduk kamar kosnya.

Bahkan, mungkin takut derajatnya rendah di mata sosial, baik bagi lelaki maupun perempuan. Karena, seringkali, pernikahan juga cara mendapat pengakuan publik bahwa seseorang lelaki telah mapan, bertanggungjawab, dan bersahaja.

Sementara, bagi perempuan, menikah menjauhkan diri dari segala kemungkinan yang menjatuhkan derajat sosialnya, menjadi perawan tua. Lagi-lagi, wujud dari pasangan sebagai fungsi sosial dalam semesta primata manusia.

Saya jadi teringat para penyintas patah hati, mereka yang bertahan hidup dalam cinta setengah mati, namun tak dapat memiliki. Jika ada sayembara ketulusan, merekalah pemenang sejati.

Masuk di bab kesimpulan. Jatuh cinta tidak mengenal logika kepemilikan, pernikahanlah yang memakai logika kepemilikan. Maka, cinta tidaklah linier alias tidak segaris lurus dengan pernikahan. Anda bisa mencintai mantan, tapi menikahnya sama pacar yang sekarang.

Tidak masalah. Surat cinta tidaklah sama dengan surat nikah. Surat nikah menjamin kepemilikan nama satu sama lain, tapi tidak menjamin kepemilikan hati satu sama lain.

Seperti dedaunan yang tak bersedih sekalipun angin menjatuhkannya dari ranting, dan seperti ranting yang pasrah ditinggalkan dedaunan di musim gugur. Jadilah sekuat keduanya, yang suatu saat pasti meninggalkan atau ditinggalkan

0 Response to "Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel