Rakyat Di Persimpangan Peradaban Politik Indonesia: Antara Makna dan Realita

Psikologer.com - Ketika hari dipenuhi hiruk pikuk kontestan bersahaja yang menjual sisi malaikat tanpa menunjukan sisi iblisnya di tepian jalan, datang dari desa ke desa, rumah ke rumah, dan dari tenda ke tenda sekedar untuk meminta minta bahkan mengemis suara dengan politik penuh intrik dan memposisikan diri sebagai penyambung suara rakyat, penyalur aspirasi rakyat, bahkan mengaku berjuang untuk rakyat dan berteriak mengatas namakan rakyat yang pada akhirnya mereka tidak akan kembali setelah kehilangan momentumnya (Pengemis Politik).
Apa sih sesungguhnya arti dari rakyat sampai berani berteriak dan berjuang mengatas namakan rakyat? Padahal rakyat mana yang sesungguhnya sedang diperjuangkan juga tidak tau, rakyat mana yang sesungguhnya aspirasinya akan disalurkan juga tidak jelas, rakyat yang mana? Atau jangan – jangan rakyat yang dimaksud hanyalah segelintir pemangku kepentingan saja? Jangankan untuk rakyat, mungkin untuk dirinya sendiri saja masih belum dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, apalagi mau memenuhi kebutuhan hidup hajat nya rakyat? Yakin berteriak dan berjuang atas nama rakyat?

Seluruh pertanyaan itu sesungguhnya tidak perlu dijawab, itu hanyalah pertanyaan retoris untuk menghidupkan imaji pembaca yang sesungguhnya adalah juga “Rakyat” dalam arti sebenarnya. Karena, mereka yang saat ini berteriak dan berjuang mengatas namakan rakyat sudah tidak sadar bahwa dirinya sesungguhnya juga adalah bagian dari kata“Rakyat” itu sendiri. a writer; try to listen to what others aren’t saying… and write about the silence (N.R. Hart). Setidaknya kalimat itulah yang menjadi latar belakang dibuatnya tulisan ini. Ini bukan persoalan tentang kesalahan atau keresahan maupun kefatalan dalam pemahaman, peradaban politik Indonesia, melainkan persoalan mengenai bagaimana esensi dari moral dan etika suatu kata berada pada realitas yang tetap sesuai dengan makna dan interpretasinya. Tulisan ini memuat opini yang diperkuat kutipan dengan taburan satire dan sedikit sarkastis di dalamnya untuk mempertahankan substansi yang berupa esensi moralitas dan etika pada kata“rakyat” tetap berada pada tempatnya ketika dihadapkan dengan berbagai realitas yang ada. Pembaca dihimbau untuk tenang dalam menelaah dan memahami makna yang tersirat dalam tulisan yang tersurat ini. Sehingga tulisan ini dapat menyadarkan kita semua mengenai pentingnya memahami makna rakyat yang sesungguhnya.

Tulisan ini menyajikan berbagai interpretasi tentang rakyat yang disadur dari berbagai tulisan lainya. Namun akan bermuara pada satu interpretasi tentang rakyat yang secara kontekstual berada dipersimpangan peradaban politik Indonesia.“Rakyat”, menyuratkan satu kata sederhana yang ketika disebutkan tidak tahu entah tertuju kemana imaji dalam mendeskripsikanya. Sehingga menyiratkan banyak makna yang menjadi dilemma dalam pemikiran manusia.Ketika kata “rakyat” dilontarkan ke hadapan publik, maka yakinlah imaji pemikiran langsung berekspresi menghadirkan wajah – wajah wong cilik atau buruh, orang susah atau golongan yang mengalami kesulitan ekonomi atau kelas pekerja, atau kaum proletar jika diartikan dalam istilah istilah sosialis, sehingga kata“rakyat” menimbulkan efek psikologis yang sangat kuat secaralangsung mendeskripsikan keadaan orang – orang yang mengalami kesulitan hidup di negeri ini.

Bahkan kata “rakyat” saat ini sangat erat untuk mendeskripsikan orang – orang yang berada dalam kondisi kejelataan, atau rakyat jelata. Saat ini kita hidup pada realitasyang untuk menyebut orang susah tidak perlu menyebut jelata, tapi cukup menyebutnya dengan rakyat saja, maka itu akan sangat merendahkan harkat dan martabatnya.Karena kata “rakyat” yang selalu digaungkan masa – masa ini mengandung konotasi negatif bahkan diskriminatif karena digunakan oleh golongan yang hendak menduduki kursi pilot politik di negeri ini yang dianggapnya bahwa kursi pilot politik itu selama ini menjadikan kehidupan sulit dankontestan yang bersahaja tadi akan memperbaiki keadaan itu dengan mengajak “rakyat” untukmendukungnya agar dapat merubah keadaan, padahal sesungguhnya tidak tentu perubahan apa yang dimaksudnya.

Kontestan bersahaja itu menggunakan kata “rakyat” hanya sebagai bujuk rayu agar menimbulkanrasa prihatin yang sama sehingga menggerakkan hati masyarakat untuk memilih kontestan bersahaja itu. Artinya, menyebut kata rakyat pada persimpangan peradaban politik Indonesia saat ini dapat bermakna merendahkan harkat dan martabat partisipan yang mendukung kontestan bersahaja itu.Karena “rakyat” dianggapnya sebagai yang tidak bisa, dan tidak memiliki apa – apa untuk melakukan apa – apa dalam merubah nasib bangsa, padahal tidak seperti itu yang sesungguhnya. Rakyat bukanlah wong cilik, rakyat bukanlah orang susah, rakyat bukanlah yang  jelata, dan rakyat bukanlah golongan yang harus disebut – sebut hanya untuk justifikasi pembelaan bahkan pembebasan atas kesulitan yang menimpa negeri ini. Rakyat itu sesungguhnya adalah kamu dan aku. Kamu yang saat ini hendak mengendarai negara ini dan aku yang turut aktif menghantarkan kamu untuk berada di kursi pilot negara ini.

Rakyat itu adalah kita semua yang ada di negara Indonesia. Sedangkan ketika kamu berbicara kepada aku, maka kedudukan ku adalah sebagai masyarakat, bukan rakyat mu, karena aku adalah rakyat Indonesia. Tapi, iya, aku adalah masyarakat mu, masyarakat dari suatu daerah yang akan kamu wakili ketika kamu berhasil aku hantarkan menuju kursi pilot itu. Belum cukup terang benderangmoralitas dan etika “rakyat”sampai disitu. Dalam KBBI, rakyat didefinisikan sebagai penduduk suatu negara.

Definisi itu belum memberikan interpretasi yang lugasdalam menjelaskan “rakyat” padatataran kontekstual dengan realitas yang ada, melainkan hanya menjelaskan pada tataran yang masih miskin dijelaskan dalam ruang lingkup pemaknaanya. Sehingga menimbulkan paradoks terhadap interpretasi rakyat itu sendiri. Maka untuk memperkaya khazanah keilmuan secara komprehensif mengenai rakyat diperlukan sumber rujukan lain untuk mengidentifikasi apa sesungguhnya makna dan interpretasi dari kata rakyat.Kata “rakyat” dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary  edisi ke-empat diterjemahkan sebagai people yang dipahami secara plural mempunyai arti persons who live in particular place, namun ketika penyebutanya ditambahkan “the” pada kata “ people”, menjadi“the people” artinya berubah menjadi ordinary persons without special rank or position. Antara people danthe people saja sudah terdapat perbedaan yang signifikan jika ditelaah melalui positioning  tentang rakyat dalam bahasa inggris terhadap subjek dari keduanya, layaknya perbedaan yang terjadi pada kata borjuis dan proletar; si kaya dan si miskin / rakyat menengah keatas dan rakyat jelata / kaum kapital dan kaum buruh, sungguh itu sangat jelas karena dari segi kata nya sudah berbeda, berlainan dengan kata peopleda the people; satu kata beragam makna. Kata people merujuk pada orang yang berada di suatu tempat (sama halnya dengan pengertian rakyatmenurut KBBI) yang menunjukkan keberadaan yang layak dan sangat dihargai, sedangkan katathe people merujuk pada orang yang tidak mempunyai kedudukan apapun (orang biasa). Kata the people pada akhirnya bermuara menjadi subjek yang bukan terbentuk sebagai substansi, melainkan Subjek yang terbentuk sebagai konteks dengan diberikan status sebagai objek dalam momentum di persimpangan peradaban politik sebagai mantra teriakan untuk membuat orang terkesima, tunduk, dan bersemangat yang pada akhirnya menjadikan orang terbelenggu dalam sautan rasa kesatuan politis pada persimpangan peradaban politik Indonesia saat ini.

Kata rakyat menjadi perdebatan penting pada tataran makna dan interpretasinya, sehingga banyak menimbulkan pertentangan moral dan etika pada tataran realita. Rakyat yang seharusnya memiliki nilai keluhuran dan kesucian sebagai khalifah di muka bumi, dicoreng oleh peradaban politik Indonesia yang tidak sesuai dengan makna dan interpretasi yang sesungguhnya sebagai realita dari kata rakyat, mereka hanya menggunakan kata itu sebagai mantra, narasi dan teriakan semata untuk mendulang kesan psikis yang hebat mengenai rasa persatuan dan kesatuan dan keprihatinan bersama yang disebut common sense of lives. Sementara pada tataran realita, maknanya dikesampingkan menjadi objek yang tidak sesuai dengan substansinya.  Penggunaan kata “rakyat”memang cara yang terbukti mampu merebut kesan psikis yang kuat sebagai metode untuk melahirkan common sense of lives ditengah persimpangan peradaban politik saat ini. Namun itu bertentangan dengan etika dan moralitas terhadap kata rakyat yang seharusnya terbangun dalam peradaban politik Indonesia.

Makna rakyat itu saat ini seperti wayang yang memiliki dua peran dalam panggung teater peradaban politik sebagai tuan dan dayang. Lalu rakyat mana yang menjadi tuan dan rakyat mana yang menjadi dayang? Siapa sesungguhnya yang dilayani dan siapa sesungguhnya yang melayani? Apakah tuan ataukah dayang? Jika sudah ditempatkan pada pertanyaan ini, maka kontestan bersahaja yang berteriak atas nama rakyat itu berperan sebagai tuan atau dayang? Acapkali mereka menempatkan diri sebagai dayang ketika berteriak atas nama rakyat pada momentumnya, tapi mereka seketika berubah menjadi tuan ketika momentum itu telah berlalu. Sungguh sangat keji ketika makna dan interpretasi rakyat bermain pada tataran realita yang tidak sesuai dengan nilai keluhuran dan kesucian atas moral dan etika tentang rakyat. Tentang Rakyat, seseorang bernama Anick pernah membahasnya di Majalah Tempo Edisi Senin, 13 Juli 2009. Tepat sepuluh tahun yang lalu Anick sudah menulisnya dengan menguraikan satu pertanyaan “apakah yang sebenarnya kita ketahui?” tentang rakyat tentunya. Anick menguraikan analisanya dengan menempatkan bahwa kata “rakyat” yang penuh dengan makna akan hilangtuahnya apabila diletakkan sebagai sebuah satuan sintaksis yang diurai maknanya di hadapan analisis, kata “rakyat” akan jadi sebuah problema karena memiliki banyak makna, tidak ada makna tunggal di dalamnya sehingga Anick juga tidak memberi kesimpulan atas uraianya tentang rakyat. Sesungguhnya Anick pada tulisanya berusaha mencari makna dan interpretasi tentang rakyat melalui analisa terhadap sajak yang ditulis Hartojo Andangdjaja, genealogi proletariat dari definisi Sastre, argumentasi Robespierre saat memimpin Revolusi Perancis yang ditemukan di catatan pribadinya tahun 1973. Namun, tetap saja Anick tidak dapat menarik kesimpulan tunggal tentang makna dan interpretasi tentang rakyat itu sendiri. Padahal dari ketiga uraianya itu sesungguhnya dan seluruhnya menyatakan bahwa rakyat sebagai subjek. Hanya saja memang terdapat perbedaan diantara ketiganya.

Hartojo menempatkan rakyat sebagai subjek yang kerja, berpikir dan mencipta yang memiliki keinginan atau kemauan yang berbeda – beda. Penempatan rakyat yang disampaikan melalui sajak Hartojo sesungguhnya sudah sangat sesuai dengan pengertian demokrasi; dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. Dan sesungguhnya sajak itu telah menjawab mengenai makna dan interpretasi rakyat ketika dihadapkan dengan realitas politik Indonesia dewasa ini, hanya saja tidak disimpulkan secara lugas oleh Anick dalam tulisanya di Tempo. Selanjutnya, Sastre memaknai rakyat dari genealogi proletariat; membentuk satu kesatuan untuk melakukan aksi dari hari ke hari, Sastre menempatkan rakyat sebagai subjek politik untuk tujuan pemenuhan kebutuhan, karena Sastre menganggap bahwa rakyat haruslah utuh dan tunggal sebagai satu kesatuan, ketika mereka berpisah dan buyar, maka Sastre tidak lagi menyebutnya sebagai rakyat.  Artinya, bagi Sastre, rakyat adalah subjek tunggal hasil akumulasi tuntutan dalam politik yang menentukan kehendak dan keputusannya secara utuh. Sedangkan Robespierre menempatkan rakyat sebagai satu kemauan yang tunggal, diluar kemauan yang tunggal itu maka dianggap bukan-rakyat.

Penempatan rakyat seperti yang dikemukakan Roberpierre sangat bahaya jika terjadi dalam satu negara, itulah sebabnya Robespierre sesungguhnya orang yang terjerat dalam definisi rakyat. Karena Robespierre telah melakukan justifikasi yang membingungkan dirinya sendiri atas yang dinamakan rakyat, sehingga saat revolusi Perancis terjadi, terdapat dua pertentangan yang sangat ekstrem; di satu sisi Robespierre membebaskan, disisi lain Robespierre menghilangkan kebebasan bagi rakyat yang tidak berada dalam satu kemauan yang dimaksud dalam catatan pribadinya itu. Oleh sebab itulah barangkali Anick tidak menarik kesimpulan tunggal atas makna dan interpretasi dari kata rakyat. Karena dapat terjadi perbedaan tergantung pada konteks apa kata rakyat itu ditempatkan. Walaupun tidak ada makna tunggal pada kata “rakyat”, kita harus mengetahui mengenai nilaikeluhuran dan kesucian yang sesungguhnya ada pada makna dan interpretasi rakyat itu sendiri secara moralitas dan etika. Sehingga kelak kita mengerti dan tidak terbuai oleh bujuk rayu peradaban intrik politik Indonesia yang menggunakan kata itu sebagai mantra untuk identifikasi dan justifikasi tindakan politik penuh intriknya sebagai tindakan pembelaan yang sesungguhnya memiliki makna terselubung hanya untuk kepentingan pada momentumnya saja. Department Arts and Culture Republic of South Africa mengeluarkan release  yang menyatakan bahwa rakyat merupakan bagian dari negara yang mengambil andil untuk masa depannya, dan menentukan apa yang diinginkanya terjadi dalam negara itu sendiri. Diperlukan kepemimpinan yang inspirasional dalam semua level dan aspek dari kehidupanya.

Artinya, rakyat itu terdiri dari pemerintah dan penduduk, itulah yang sesungguhnya menjadi makna daninterpretasi dari “rakyat”. Bukan hanya penduduknya saja yang disebut rakyat, tapi pemerintahnya  juga adalah rakyat, rakyat Indonesia. Jika yang dimaksud adalah sekelompok orang dalam suatu entitas di dalam negeri, maka penyebutan yang paling tepat yaitu menggunakan kata“masyarakat”, bukan lagi rakyat, kecuali jika penyebutan dilakukan diluar dari negara Indonesia,maka bisa menggunakan kata “rakyat”.Sandingan kata pemerintah adalah masyarakat, bukan rakyat.Sehingga, kata “rakyat” tidak lagi digunakan untuk penyebutan terhadap entitias di dalamnegeri, melainkan ke luar negeri. Maka, sebagai kesimpulankata “rakyat” harus dipahami sebagaientitas tunggal sebagai satu kesatuan di Republik Indonesia; ex: Rakyat Indonesia. Tidak bisa dipahami sebagai entitas yang berkelas – kelas dalam suatu negara, karena sesungguhnya entitas yang berkelas –kelas dalam suatu negara itu bukanlah rakyat, melainkan “masyarakat”. Dengan begitu, maka eksistensi nilai moralitas dan etika dari makna serta interpretasi dari kata“rakyat” dapat bertahan ketika dihadapkan dengan segala tingkatan realitas. Merujuk pada pemaknaan dan interpretasi rakyat sebagaimana yang telah disimpulkan, maka antara tuan dan dayang, rakyat bukanlah keduanya.

Rakyat tidak bisa dianalogikan sebagai tuan dan dayang karena rakyat bukan merupakan entitas yang terpisah oleh ketimpangan kedudukan pada stratifikasi sosial yang menyebabkan hilangnya nilai moralitas dan etika dari kata “rakyat”. Hanya kata masyarakat lah yang dapat dianalogikan sebagai tuan dan dayang dalam realitas peradaban politik Indonesia karena memiliki stratifikasi sosial dengan kedudukan masyarakat yang menduduki kursi pilot politik di Indonesia harus sadar bahwa dirinya adalah dayang. Dan masyarakat yang menghantarkan kontestan bersahaja ke kursi pilot politik di Indonesia itu adalah tuan nya. Setiap orang kiranya harus memahami konsep dasar ini agar tidak gagal paham dalam mengidentifikasikan diri sebagai Rakyat Indonesia, juga tidak gagal paham dalam berbangsa dan bernegara sebagai Rakyat Indonesia. Jika kamu sedang berjuang untuk menduduki kursi pilot politik di Indonesia ini, maka mulailah belajar untuk memahami perasaan aku. Setelah itu, tentu aku akan menghantarkan kamu menuju kursi pilot itu. Agar kamu dapat menerbangkan negeri ini ke tujuanya.

Tapi, jangan lagi sebut aku sebagai rakyat jika kamu sesungguhnya satu berada di satu negeri bersama aku. Karena rakyat itu adalah kamu dan aku. Sebutlah aku sebagai masyarakat kamu, maka aku lebih rela dengan itu. Sebab kamu tidak bisa sembarangan menggunakan kata rakyat yang didalam pemaknaanya terdapat nilai etika dan moralitas keluhuran dan kesucian suatu entitas sebagai satu kesatuan tunggal bagi negeri ini. Jika kamu hendak mengguanakan kata rakyat, maka berbuatlah kamu bagi negeri ini untuk kamu tunjukkan ke negeri lain bahwa bukan kamu atau aku sebagai Rakyat Indonesia, melainkan KITA RAKYAT INDONESIA.

"Jangan mencoba bijak disaat anda belum mampu berdamai dengan kenyataan. Jangan dibendung. Biarkan mengalir. Akan ada masanya"

0 Response to "Rakyat Di Persimpangan Peradaban Politik Indonesia: Antara Makna dan Realita"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel