Budaya Literasi Sudah Tergantikan Dengan Banyak ber - Apology

Oleh: Nasir Ahmad Khan Saragih
Zaman makin hari semakin berkembang ke era yang lebih maju, namun masih banyak pola pikir tidak maju maju. Mungkin begitulah hemat penulis melihat situasi yang sedang terjadi pada saat ini. Pada zaman dahulu ada sebuah pepatah yang mengatakan, "buku adalah jendela ilmu", yah memang benar pepatah ini, namun pada saat sekarang ini, untuk membuka jendelanya saja banyak yang tidak mau.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada lintas pemuda saat ini, sangat banyak mengalami kemunduran. Contohnya saja pada mahasiswa, anak muda, serta kaum pelajar lainnya. Generasi pada saat ini sudah memiliki budayanya tersendiri. Mungkin disana dengan game online nya atau dengan bucinnya. Makanya tidak heran banyak dari mahasiswa saat ini terdapat kemunduran yang didapatkan. Budaya literasi, bukan budaya yang asing kita dengar ditelinga kita semua, budaya ini menurut saya sudah menjadi warisan dari sejak dahulu dan anjuran dalam agama Islam, contohnya "iqra" yang artinya bacalah. Namun sekarang itu sudah hilang bukan ?

Sebenarnya kalau kita semua mengetahui bahwasanya membaca merupakan kegiatan pengkajian, memahami, dan mencari informasi dari sebuah bahan, baik itu bacaan fiksi dan non fiksi. Yang jadi permasalahan sudahkah kita menyadari betapa pentingnya membaca tersebut ? Menurut Data PISA (Program of International Student Assesment) dijelaskan pada kenyataannya bahwa Indonesia menduduki peringkat 69 dari 76 negara terkait skor membaca siswa. Hal tersebut menjelaskan bahwa minat membaca Indonesia masih rendah yaitu masih di peringkat 8 dari bawah.

Hal tersebut jelas terlihat dari banyaknya perpustakaan yang dibangun di perkotaan atau sebuah instansi, namun sangat minim jumlah pengunjung yang datang ke perpustakaan tersebut. Sangat memprihatinkan sebenarnya jika melihat sebuah tempat yang dibangun dan diberdayakan khusus untuk menunjang pemahaman masyarakat namun tidak dimanfaatkan dengan sempurna. Dan inilah salah satu contoh bentuk pembangunan yang sia-sia dikarenakan budaya yang berkembang pada era tersebut. Bagaimana sudah mengerti sampai saat ini ?

Namun ketika ber-adu argument, semua ingin menang, namun ketika ditanya tentang landasan teoritis dan empiris dari sebuah masalah, jawabnya ngawur (apology). Bukankah ini menjadi kegagalan buat kita semua sebagai kawula muda negara ini ?

Menurut pemahaman penulis sendiri yang dapat disimpulkan dalam pemahaman dan penulis jewantahkan pada tulisan ini, dapat diartikan bahwasanya apology itu sendiri adalah upaya pembenaran ataupun pembelaan terhadap suatu argument. Mungkin kejadian yang seperti ini, sering teman-teman lihat dan dengar disekeliling teman-teman bukan ?  Ini juga suatu budaya kemunduran yang nyata didalam kehidupan sehari-hari. Wajar saja kenapa berita hoax, perpecahan dan hate speech sering terjadi, mungkin dikarenakan malasnya diantara kita buat membaca dan mencari informasi yang baru dan terbukti keabsahannya. Menurut penulis juga dagangan yang paling cepat laku yaitu berita hoax kepada masyarakat. Akan tetapi ketika terjadi berita hoax beredar, seakan-akan semua kita percaya langsung begitu saja, namun kita tidak mau mencari kebenaran berita tersebut. Dengan demikian jangan pernah salahkan yang menyebarkan berita tersebut, namun salahkan juga diri kita, kenapa kita tidak mau belajar supaya kita tidak mudah termakan isu murahan. Dengan tulisan ini, penulis ingin mengajak kepada teman-teman pembaca, bahwasanya membaca bukan suatu kebosanan, namun sebuah hiburan yang berfaedah. Nah disini penulis akan kasih tips agar rajin membaca, supaya kita semua tidak ber-apology ketika adu argumen :
1. Kamu harus punya motivasi buat membaca.
2. Mulailah membaca sesuatu yang kamu suka.
3. Berteman sama yang suka membaca.
4. Sisihkan waktumu khusus buat membaca.
5. Minta rekomendasi buku dari orang lain.
6. Tumbuhkan rasa ingin tahumu.


Mungkin tips ini membantu teman-teman sekalian supaya lebih mau membaca, karena para pahlawan, aktivis, dan seorang akademis pun pintar itu dimulai dari bacaan yang dipaksakan dan menjadi sebuah kebiasaan. Teruslah haus akan ilmu pengetahuan, sebab ketika kamu mati kelak, yang akan dikenal orang itu selain namamu, kebaikanmu dan juga ilmu pengetahuan yang engkau ajarkan.

Buktinya saja, banyak yang tak kenal Nurcholis Madjid, namun buah pemikirannya tentang "Islam yes, partai Islam no" sampai sekarang masih sering dijadikan bahan diskusian, nah kan itu sebenarnya jadi amal jariyah kepada kita. Hentikan apology mu, perbanyak dan perbaiki gerakan literasimu.

Penulis sebagai seorang mahasiswa yang ingin merujuk kepada Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala mungkin dengan gerakan literasi tulisan ini dapat membantu dan mengajak teman-teman sekalian untuk merubah diri menjadi yang lebih baik. Ingat waktu yang baik itu tidak akan bisa diulangi kembali, yang ada hanyalah penyesalan ketika kamu tidak punya waktu lagi. Semoga berhasil teman-teman merubah budaya apology mu.

Semakin aku banyak membaca, semakin aku banyak berpikir, semakin aku banyak belajar, semakin aku sadar bahwa aku tak mengetahui apa pun.
Voltaire

Ketika seseorang yang tak kukenal membaca tulisanku, lalu merasakan apa yang ku sampaikan, aku telah bersahabat dengannya.


2 Responses to "Budaya Literasi Sudah Tergantikan Dengan Banyak ber - Apology"

  1. syukron saudara nasir... 👍 mantap betul tulisannya... Smga sebagai generasi muda dan mahasiswa kita dpt/mau belajar dan berusaha mengembangkan literasi...
    #mauliana

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel