Degradasi Kemunduran Falsafah Kehidupan Berlandaskan "Poda na Lima"

Oleh: Nasir Ahmad Khan Saragih
Manusia sebagai makhluk hidup adalah makhluk yang sangat membutuhkan kehidupan yang sosial. Manusia disebut juga sebagai makhluk holistik, artinya adalah makhluk yang utuh yang berdiri atas beberapa unsur didalamnya, ada unsur biologis, sosial, psikologis dan spritual. Teori yang dikemukakan oleh bapak Syafrianto Tambunan, salah satu pakar konseling mengatakan bahwasanya teori holistik dijelaskan semua organisme yang saling berinteraksi, artinya ada suatu kebutuhan yang dibutuhkan didalamnya. Manusia adalah organisasi yang tidak bisa terlepas dari budaya dan kebudayaan yang ada. Tiga Wujud Kebudayaan itu menurut pendapat seorang ahli sosiologi Talcott Parsons dengan ahli Antropologi A.L. Krober menganjurkan untuk membedakan secara tajam wujud kebudayaan sebagai sistem dari ide-ide dan konsep-konsep dari wujud kebudayaan sebagai suatu rangkaian tindakan dan aktivitas manusia yang perpola.
Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide,gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Adapun 3 wujudnya yaitu:

1.Wujud pertama adalah ideal dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat diraba atau difoto, lokasi ada di dalam kepala-kepala.

2.Wujud kedua dari kebudayaan yang disebut sistem sosial, mengenai tindakan berpola manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain dari detik ke detik dari hari ke hari, dan dari tahun ketahun, selalu menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat kelakuan, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasi.

3.Wujud ke tiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik, karena berupa seluruh total dari hasil fisik dan aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat, maka sifatnya paling konkret, dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto. Dari ketiga wujud kebudayaan, dalam kenyataan hidup masyarakat tentu tak terpisah dari satu dengan yang lain. Kebudayaan ideal dan adat istiadat mengatur dan memberi arah kepada tindakan dan karya manusia. Menghasilkan benda-benda sifatnya kebudayaan.

Pada kali ini saya akan menuliskan degradasi pada falsafah kehidupan suku Angkola Tapanuli yang sering kita dengar dengan sebutan PODA NA LIMA (kebaikan lima hal). Warisan budaya ini menurut beberapa pakar adalah ajaran-ajaran yang diberikan untuk dirawat, dilestarikan dan dijaga karena sebagai suatu kearifan lokal yang ada. Pada masyarakat Angkola Tapanuli, khususnya pada suku Mandailing dan Angkola, berpatok pada Poda Na lima tersebut. Dipahami bahwa kebudayaan merupakan respon positif manusia terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di sekitarnya. Selain itu, budaya merupakan manifestasi dari aspek manusia yang multi-dimensional. Segala teori kebudayaan terlalu lamban untuk memahami keseharian manusia yang bergerak cepat.

Manusia tidak sekedar merajut makna lewat kerja, melainkan komunikasi inter-subjektif dengan simbol-simbol. Manusia sehari-hari adalah manusia yang bercakap, merenung dan mamaknai. Kebudayaan adalah festival kemajemukan dimensi manusia dan menolak segala bentuk reduksionisme. Manusia bukan semata-mata makhluk ekonomi yang melulu berfokus pada bagaimana bertahan hidup. Ruang refleksi yang tertutup oleh determinasi kerja dibukakan secara kultural. Kebudayaan adalah fokus dimana manusia bukan sekedar pedagang dan pembeli, melainkan makhluk multidimensi. Berhubungan dengan budaya yang saya pelajari disebut dengan nama Poda Na Lima.

Poda Na Lima mencakup yaitu : 
1. Paias Rohamu (Bersihkan Jiwamu)
2. Paias Pamatangmu (Bersihkan Badanmu)
3. Paias Parabitonmu (Bersihkan Pakaianmu)
4. Paias Bagasmu (Bersihkan Rumahmu)
5. Paias Pakaranganmu (Bersihkan Lingkunganmu)

Kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi adat budaya sangat penting untuk mewariskan dari generasi ke generasi agar kita tidak kehilangan identitas seperti Poda Na Lima sebagai payung hukum adat yang tak tertulis untuk dijalankan sebagai perilaku sosial antar individu, kelompok dan antar kelompok di bumi Dalihan Na Tolu. Dan ini adalah salah satu warisan yang sangat luar biasa didalam kehidupan kita.

Inti dari tulisan kali ini adalah, penulis melihat banyak degradasi (kemunduran) didalam mempelajari dan mengkaji kembali tentang warisan yang ditinggal oleh para leluhur dahulu. Sebagai bentuk inti dari Poda na lima tersebut, mengajarkan tentang nilai-nilai kebaikan, ada landasan filosofis yang memberikan petunjuk supaya kita bisa hidup menjadi lebih baik. Contohnya saja paias rohamu (bersihkan jiwamu), secara garis besar seluruh agama mengajarkan kita untuk membersihkan jiwa dan hati dari sifat-sifat iri, dengki dan sombong. Namun semakin berkembangnya zaman banyak perubahan dari adat tersebut. Banyak pemuda saat ini tidak peduli lagi dengan budaya yang ada. Artinya ada sedikit pengurbanisasian pola pikir pemuda saat ini yang saya lihat. Para pemuda saat ini lebih fokus kepada sifat dari urbanisasi tersebut, sehingga menyampingkan kebudayaan tersebut. Saya hanya bisa mengira ketika budaya sudah mulai tergeser maka kehancuran akan datang. Karena ketika manusia menerima secara praktis kebudayaan baru tanpa ada dasar yang kuat akan menyebabkan ketidaksiapan nantinya. 

Pada dasarnya poin penting yang akan saya sampaikan adalah, budaya dan kebudayaan tercipta bukan untuk memecah belahkan suatu keadaan. Namun seperti memberikan pedoman yang berkorelasi dengan agama. Namun perlu kita ketahui juga kita mesti berpegang teguh kepada agama. Budaya terbentuk atas dasar mempererat yang renggang menjadi rapat. Maka dari itu konsep kebudayaan Poda na lima saya ingin mengajak teman-teman untuk tetap melestarikannya sampai kapanpun. Walaupun sudah pergi kekota atau sifat sudah ke urbanisasi-an namun budaya tetap dijunjung tinggi sebagai identitas yang khas pada setiap insan. 

Kemunduran dan perpecahan mengatasnamakan budaya diakibatkan tidak pedulinya kita terhadap agama kita sendiri. Saya merasakan tulisan jni tidak klimaks (sampai ketitik kepuasan), namun saya berupaya untuk memberikan hantaran kepada teman supaya tetap mau melestarikannya. Kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau orang Tapanuli bilang "ulang maila" (jangan malu) terhadap budaya kita sendiri, walaupun kita sudah tinggal dikota. Sebagai generasi penerus bangsa, kembali kekampung halaman bukan mengkerdilkan dirimu, namun adalah cara kamu untuk peduli terhadap budaya dan kebiasaan yang kamu lakukan dan sering kamu lihat ketika kamu kecil dan kamu ingin mengulangnya kembali kepada anak cucumu kelak. Dalam tulisan ini saya yakin memiliki kekurangan atau tidak sesuai dengan pemahaman teman pembaca semua. Cuma saya hanya belajar untuk mengetahui budaya yang ingin saya pelajari dan saya ketahui supaya mengerti mengenai warisan yang tetap ada dari masa ke masa.


"Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk aku jadi ana, sampeyan jadi antum, sedulur jadi akhi. Kita pertahankan milik kita, kita harus filtrasi budayanya, tapi bukan ajarannya"
Gusdur

0 Response to "Degradasi Kemunduran Falsafah Kehidupan Berlandaskan "Poda na Lima""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel