-->

Jangan Bercanda Dengan Rasa, Eh Jangan Berlebihan Dalam Bercanda Maksudnya

Oleh: Nasir Ahmad Khan Saragih
Ada yang menusuk tapi bukan jarum, ada yang terluka tapi bukan tubuh, ada yang merasa tapi bukan lidah. Setiap perbuatan yang pernah kita lakukan pasti pernah membuat orang senang, bahagia dan mungkin terluka karena kecewa. Sebagai makhluk sosial, manusia hidup dengan berinteraksi satu sama lain, beraktivitas, berbicara dan tidur pun sebagai bentuk interaksi. Teman-teman pembaca sekalian, pasti kalian memiliki seorang teman atau sahabat yang pernah dekat seperti urat nadi dan sekarang sudah sejauh matahari ? Atau mungkin kalian pernah merasakan indahnya dunia dengan saling melengkapi dan menutupi kesalahan masing-masing ?
Semua orang memiliki cara bahagia nya masing-masing. Namun jangan pernah kita merusak bahagia seseorang dengan cara menghancurkan mood dan perasaan mereka.

Dilingkungan kita sehari-hari banyak manusia yang berbeda-beda karakteristik sifatnya. Karakteristik manusia secara ilmiah dibagi menjadi empat, yaitu:
1.koleris (kuat)
2.melankolis (sempurna)
3.plegmatis (cinta damai)
4.Sanguinis (populer)

Dari berbagai tipe diatas menjelaskan bahwa semua memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Sebenarnya sekalian berbagi informasi saya juga akan memberikan masukan untuk jangan berlebihan dalam bercanda. Ada dua poin yang perlu kita ingat pada diri kita semua. Yang pertama kebaikan kita kepada orang lain dan kesalahan orang lain kepada kita. Coba pernah tidak teman-teman berfikir bahwasanya ada secercah perkataan teman-teman yang pernah keluar dari mulut kita yang membuat perasaan orang lain terluka. Mengobati luka yang muncul dari lisan tak cukup mudah seperti mengobati luka dikulit tangan kita, berbeda dengan organ tubuh lainnya, meski terkadang secara lahiriyah telah memberi maaf, namun memaafkan bukan berarti melupakan kejadian yang pernah ada. Parah bukan ? Sebenarnya bukan parah, trauma hati adalah trauma yang terjadi menimbulkan phobia tersendiri untuk tidak terjerumus kembali kepada keadaan yang seperti itu.

Terkadang dalam pergaulan kita sering menganggap bahwasanya bercanda adalah hal yang biasa. Saling olok-olokan, ejek-ejekan tanpa memikirkan perasaan. Ada pendapat yang mengatakan jika candamu belum diterima temanmu, berarti mainmu kurang jauh dan pulangmu kurang malam.

Menurut saya sih sah-sah saja orang mau bilang apa, akan tetapi ada batasan dalam becanda, tidak setiap waktu harus dicandakan, perihal rasa contohnya, jangan bercanda dengan rasa, karena hati bukan stand up comedy. Saya cuma ingin katakan, ketika kamu melakukan komunikasi yang baik, kamu harus bisa menjaga lisanmu dari ucapan yang membuat luka perasaan seseorang.

Bicara perihal hati, bicara tentang sesuatu yang terpatri dan susah untuk tereliminasi. Menjaga lisan bukan hanya menjaga ucapan saat bicara saja, namun juga di dunia Maya, seperti beranda Facebook dan Twitter dari hal-hal yang dapat memberikan dampak negatif kepada orang. Seharusnya setiap individu harus bisa menggunakan jari-jari saat menulis di medsos untuk mengajak ke arah kebaikan menuju kesejukan hati dan beramal saleh, seperti persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dalam bingkai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Ia adalah yang lebih panas dari api, yang sangat pedih daripada luka, dan yang lebih tajam daripada pedang yaitu "kata". Mulutmu harimaumu, bukan mulutmu jadi malapetakamu. Ambil sisi baiknya, buang sisi buruknya. Semua rasa tak perlu diucapkan, hentikan penyesalan, sudahi pertikaian karena hidup terlalu singkat hanya dipakai untuk meratap. Perbaiki dirimu dan terus berlomba-lomba dalam kebaikan.

"Saat kamu merasa dunia tidak adil, tidak pernah berpihak padamu, merasa semua yang kamu jalani saat ini begitu berat, tidak apa-apa kamu istirahat dulu, jiwa dan pikiranmu butuh ketenangan untuk sementara waktu. Semoga besok baik-baik aja yaa :)"

0 Response to "Jangan Bercanda Dengan Rasa, Eh Jangan Berlebihan Dalam Bercanda Maksudnya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel