Karantina Diri Dengan Meng-Kartini kan Diri

Oleh: Nasir Ahmad Khan Saragih
Ada yang dipenjarakan bukan karena salah, namun karena gagasan dan keadaan yang membuatnya terpenjara. Dia adalah Raden Ajeng Kartini, perempuan yang lahir di bilik rumah tepatnya di Jepara Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879.  Merujuk kepada surat yang dituliskan oleh Kartini yang ditujukan kepada Zeehandelaar pada tanggal 25 Mei 1899. Yang berisikan tentang, "ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis-gadis keluar rumah. Ketika saya berusia 12 tahun lalu saya ditahan di rumah, saya mesti masuk tutupan, saya dikurung di dalam rumah seorang diri, sunyi senyap terasing dari dunia luar ".
Tidak ada bedanya dengan kondisi kita saat ini, yang dikurung didalam rumah karena pandemik covid-19 ini. Namun bedanya Kartini tanpa kuota internet, tanpa drama Korea, dan tanpa game onlinenya. Kartini dipenjarakan oleh tembok ke tembok ditemani dengan pena dan kertas sebagai senjatanya. Dengan semangat juang yang terpatri dalam tubuh Kartini, tidak menjadi alasan untuk dia menyuarakan aspirasinya lewat pena tintanya. Gadis belia keturunan ningrat tersebut mengatakan bahwasanya keningratan itu ada dua yaitu keningratan pikiran (fikroh) dan keningratan budi.

Bayangkan bagaimana sederhananya Kartini dengan segala semangat juangnya. Ia tumbuh dengan semangat yang besar dan dengan adab yang baik pula. Mengapa harus karantina diri dengan meng-Kartini kan diri ? Karena semangat pantang menyerah dengan kondisi saat ini menjadi tolak ukur kita. Berikut ulasan yang akan saya berikan:

1. Semangat berkarya 
Ketahuilah pada saat pandemik seperti ini, kita mengambil persamaan dengan Kartini yang terus berkarya dengan belajar dan menulis. Mungkin kita juga bisa melakukannya dengan membaca dan menulis.

2. Santun berkata dan sopan perilakunya
Lemah lembut bicara Kartini dan sopan dalam tingkahnya adalah pokok yang terpenting diterapkan oleh Kartini masa depan saat ini, karena adab jauh lebih penting daripada ilmu, dan inilah yang ditanamkan Kartini sejak dahulu.

3. Semangat berkorban dan tidak rebahan
Kalau hari ini kamu rebahan mulu, kalau hari ini kamu malas-malasan mulu, rela lah berkorban memperjuangkan apa yang seharusnya kamu perjuangkan. Berikan kontribusimu karena jika hari ini kamu bermalas-malasan maka kamu harus menanggung kepahitan kedepannya. Teruntuk kalian Kartini masa depan rela berkorban dalam artian yang positif, menyuarakan aspirasi ketika kalian dianggap sebelah mata dan tidak berdaya.

4.  Menumpas kebodohan " habis gelap terbitlah terang " 
Hari hari Kartini dihabiskan dengan kegiatan belajar, pada masa itu ia tidak ingin perempuan hanya dijadikan budak dan pemuas nafsu laki laki saja. Menurut hemat saya perjuangannya ingin mengatakan bahwasanya kami juga bisa, kami juga ingin merdeka dan kami tidak ingin dijajah terus menerus sebagai budaknya laki-laki. Suara Kartini melalui goresan penanya berhasil dengan berjuang untuk pendidikan. Dan masa pendidikan ini tidak menutup kemungkinan kalian juga melakukan seperti ini, belajar dengan semangat, work from home dengan ikhlas hingga hasil akan terlihat dihari yang akan datang.

Teruntuk kalian para perempuan, tulisan ini saya sajikan karena melihat semangat Kartini yang tak pernah pudar untuk menumpas segala tindakan yang tidak baik. Namun hal yang paling terpenting dari sifat Kartini adalah bagaimana cara kamu bisa karantina diri dengan meng-Kartini kan diri dimasa pandemik ini.

Perempuan yang tak pernah berfikir mundur untung berjuang, kalian luar biasa, kami mengakui kalian bahwasanya bisa. Kalian bukan budak namun kalian adalah rahimnya ibu peradaban. Namun ingat, sejuta Kartini tak akan mengubah apapun kalau kerjamu cuman selfie melulu. Karena dari literasi Kartini terbitlah emansipasi dan edukasi masa kini. Sebagai laki-laki kamu juga ingin melihat kontribusi kalian kembali, masifnya pergerakan wanita, mengatasnamakan hati tidak dengan logika menjadi suatu alasan yang klasik dan sering di utarakan, tidak menutup kemungkinan untuk memerdekakan diri kalian dan meningkatkan derajat kalian.

Selamat hari Kartini. Semoga Kartini dapat hadir mengisi lembah sejarah manusia. Kami cinta Kartini dan kami ingin mengajak kalian menjadi Kartini dalam pribadi diri sendiri. Gelap hatimu semoga lekas ada penerang baru, meski hanya singgah tapi tak sungguh setidaknya pernah terang meski sebentar. Saya tau kalian perempuan-perempuan kuat.

"Negeri ini masih butuh pemanis, walau kenyataan kadang pahit untuk di jalani dan masih ada saja, celetukan "perempuan kok gitu" padahal Kartini memperjuangkan kesetaraan agar perempuan aman nyaman penuh kebahagiaan. Jadilah penerus kartini kekinian. Walau cuma bisa pergi tanpa alasan. Karena segala sesuatu yang tidak jelas justru masih membuatmu antusias.

1 Response to "Karantina Diri Dengan Meng-Kartini kan Diri"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel