Ngaca Itu Perlu Untuk Kesadaran Diri

Oleh: Nasir Ahmad Khan Saragih
Merujuk pada garis besar kaca cermin itu sendiri yang dilansir oleh beberapa pakar dan ahli yang dapat saya simpulkan dengan bahasa saya adalah permukaan yang licin namun dapat menghasilkan pantulan benda yang sangat sempurna. Disalah kehidupan sehari-hari kita diajarkan untuk berkaca atau bercermin, contoh kecilnya adalah pada saat hendak pergi ke sekolah, bekerja atau jalan-jalan kita sering melakukan kegiatan berkaca diri, sudah pantas dan layakkah kita untuk beranjak melakukan aktivitas, artinya adalah menelaah diri sendiri adalah hal yang sangat penting dalam hidup kita.

Merujuk kepada literasi yang pernah saya baca dalam buku Seni Perang Sun Tzu, jika kita mengenal diri sendiri dan mengenal siapa musuh yang akan kita hadapi, maka kita tidak perlu mengkhawatirkan hasil dari 100 pertempuran. Begitu pula dalam hidup ini, seorang manusia sepatutnya mengenal dengan baik dirinya sendiri dan lingkungan tempat dia hidup, karena hal tersebut adalah modal utama dalam menjalani kehidupan. Beranjak dari pernyataan diatas, saya menarik benang kesimpulan adalah supaya lebih sering mengaca diri sendiri sebelum mengaca diri orang lain. Namun yang jadi masalah menurut analitik yang saya bangun didalam tulisan ini adalah Retaknya Cermin Kesadaran Diri, alasannya kenapa saya katakan begitu ? Setelah kita mengevaluasi diri dengan berkaca pada Cermin Filosofis (mungkin) kita menyadari bahwa masih begitu banyak yang perlu kita perbaiki, benar atau tidak ? Terkadang kita tak pernah sama sekali menyadarinya, kita lebih suka menjadi layang-layang yang terbang-mengawang-awang di angkasa.
Teriakan kritikus, “Tolong berubah” tak didengarkan dan dijalani. Inilah arti kata “intoleransi” dalam tulisan ini, yaitu kita tak menghiraukan kekurangan dalam diri sendiri. Parahnya, tak mau belajar untuk membenah diri. Hanya sibuk kritik orang lain, tanpa melihat kekurangan diri. Intoleransi diri adalah akar dari sikap intoleran antar umat beragama, kenapa saya menyebutkan agama, karena sampai hari ini saya melihat agama adalah hal yang paling laris untuk didagangkan. Dan ini adalah salah satu penyebab robeknya tirai persatuan bangsa. Sebab, semua itu berangkat dari kekurangan pengetahuan dan miskinnya kesadaran untuk belajar. Benar atau tidak ? Kita lupa cara memperbaiki diri, yang hanya kita tau adalah berangkat dari komentar untuk menggunakan cermin orang lain. Kebiasaan ini bukanlah hal yang biasa menurut saya, kali ini saya akan meminjam pernyataan dari Immanuel Kant, yaitu Moral bukanlah doktrin bagaimana kita membuat diri kita bahagia, tapi bagaimana kita membuat diri kita untuk layak akan kebahagiaan.

Hemat saya sebenarnya seperti ini, ketika kamu ingin bahagia kamu ciptakan bahagia kamu sendiri dengan cara kamu sendiri, dengan cara yang positif dan tidak merugikan orang lain. Teman-teman, ada beberapa yang perlu kamu ketahui supaya kamu mau berkaca diri antara lain:

1. Cermin menilai orang tidak dilebihkan dan dikurangi
Pada dasarnya cermin itu adalah memberikan hasil apa adanya bukan ada apanya dari pantulan benda yang ada, didalam hidup kamu juga harus seperti itu supaya kamu tidak salah paham selalu.

2. Cermin itu sifatnya diam
Cermin tidak pernah mengganggu benda apapun jika tidak ada yang menggerakkannya. Hidup juga harus seperti itu, jangan mengganggu kalau tidak ingin diganggu.

3. Introspeksi diri
Ini hal yang paling penting, jangan mengambil kaca orang lain kalau kaca sendiri masih berdebu dan kotor.

Pada akhirnya ketika membaca tulisan ini bukan membuat anda mengerti isi dalam tulisan ini, melainkan mengajak anda untuk lebih giat mengenali diri atau mau bercermin. Demikianlah hasil ocehan kontemplatif penulis selama mengisolasikan diri untuk lebih sering bercermin pada diri sendiri bukan pada orang lain.

"Moral bukanlah doktrin bagaimana kita membuat diri kita bahagia, tapi bagaimana kita membuat diri kita untuk layak akan kebahagiaan."

3 Responses to "Ngaca Itu Perlu Untuk Kesadaran Diri"

  1. Itulah mengapa aku suka kali melihat Cermin, walaupuun tuk mencukur jenggot saja. Hehehe

    Jenggot yang tidak rapi, perlu di rapikan dan disiplinkan.


    Luar Biasa adinda.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel