Dipenjara Oleh Ruang Waktu

Babak belur di hajar rindu, terluka parah, berdarah setelah cinta berubah arah. Bagaimana kabarnya setelah kamu sekolah, kuliah, dan kerja tanpa ruang nyata ? Masih suka ngeluh dengan berbagai keadaan, setelah waktu kemarin kita sia-siakan dan sekarang timbul penyesalan bukan ? Kemarin ketika rindu bisa bertemu, ketika ada masalah bisa saling tegur sapa, sekarang untuk mengabari melalui chat saja sudah tak ada rasa ingin didalam hati. Ppenjara itu adalah rindu, kata sebagian orang yang lama bukanlah waktu, melainkan rindu yang tak kunjung temu. Apa benar sih itu ceritanya ?

Seketika terdiam menatap layar ponsel yang tertuju pada chat kita di masa lalu. Lidahku kelu. Jemariku membeku. Ada rindu yang seharusnya kubuang jauh-jauh. Chat kita tidak lagi sehangat dulu. Namun ada kenyataan yang harus aku terima, bahwa kenangan kita pernah seindah itu. Bagaimana, ada yang merasakan seperti ini ?
Kenapa tiba-tiba setelah jarak jauh, hubungan dari kita banyak yang mulai rapuh ? Apa benar rindu itu adalah benalu ? Apa mesti rindu itu kita sapu bersih dengan pertemuan yang mungkin tidak karuan ? Atau ini cuman sebatas nge-halu doang ?

Bagaimana kabar kalian yang biasanya saling ucap kata dipenghujung malam dan semangat dipagi hari ? Masih ada dari dia ? Dia yang pernah menyatukan rasa namun berujung patah ? Apakah kalian menyesali semua itu bahwa kita memang adalah beberapa dari mereka yang takut merindu, yang kita tau dipenjara waktu adalah sesuatu yang tak karu-karuan. Beberapa dari mereka yang masih baikan, coba sadari selama merindu sudah berapa kali kamu harus bertengkar ? Seberapa sering kata cemburu itu tumbuh ?

Bukber dengan teman alumni dikira flashback dengan mantan, kumpul bareng teman dikira cari gebetan yang baru, se-posesif itu kah ? Apa benar ketika kita merindu, pikiran yang positif berujung dengan negatif ? Kenapa banyak dari kita yang merasakan gak karuannya diterpa badai kerinduan. Sebenarnya ada satu hal yang harus kamu tau, kamu tidak pernah menghargai waktu. Bukankah pada saat masih ada waktu, diajak bertemu ada saja alasan yang terucap dari mulut yang suka mengatakan yang sebenarnya tidak harus dikatakan.

Yang terpenting dari terpenjara oleh waktu adalah bagaimana kamu merawat rasa dibalik jauhnya jarak dengan kepercayaan. Dan mulut yang sering mengutarakan kata maaf dibalik ego yang suka bermetamorfosis sesuka hati. Serta mood pada diri yang suka naik turun layaknya roller coaster. Solusi konkritnya adalah berikan yang terbaik sebelum luka itu ada.

Karena perasaan suka bisa berubah menjadi hilang rasa. Perasaan benci bisa berganti menjadi mencintai. Keadaan bisa berbolak balik semudah itu. Karenanya, tidak perlu berlebihan terhadap apapun. Cukup seadanya dengan takaran yang sewajarnya. Think positif dengan keadaan, mungkin saja dia lagi sibuk membuat kue lebaran. Sekali lagi tetap kuat melawan rindu, karena melawan covid-19 tidak bisa sendirian dan menahan rindu juga butuh teman.

"Kenangan itu memang kurang ajar. Datang tiba-tiba, menghajar hati yang sudah lelah bertahan. Semacam sakit tapi tak berdarah. Semacam tangis tapi tak bersuara."

Author: Nasir Ahmad Khan Saragih

1 Response to "Dipenjara Oleh Ruang Waktu"

  1. dunia tak seindah dulu lagi orang -orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing,kini wajah-wajah sudah mulai berpaling yang tak kan pernah lagi bersanding

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel