Mengaku Intelektual Tetapi Mental Karbitan

Tulisan ini adalah sekedar narasi yang dibangun, kemungkinan besar ini benar terjadi dan mungkin saja juga tidak terjadi. Pada hakikatnya merujuk pada pernyataan Nelson Mandela bahwa pendidikan adalah senjata yang ampuh dalam mengubah dunia. Pernyataan ini didasari dengan berbagai penafsiran yang benar adanya bahwasannya pendidikan adalah korelasi dengan keilmuan yang kita dapat untuk merubah keadaan. Menurut hemat saya merujuk pada buku pendidikan kaum tertindas karangan Paulo Ferreira, hakikat pendidikan adalah proses pengembangan, penggalian, dan mengembangkan potensi dari diri setiap orang dengan tujuan supaya mampu untuk bersaing dalam menghadapi tantangan zaman saat ini ataupun masa yang akan datang. Maka tidak heran seharusnya pendidikan bisa kita katakan sebagai tempat yang steril jauh dari namanya kolusi, korupsi, dan nepotisme apalagi unsur politik praktis didalamnya. Karena bila mana adanya politik praktis diranah pendidikan, maka menurut saya dapat melanggar norma-norma dan nilai-nilai pendidikan itu sendiri.
Pendidikan di negeri tercinta ini sudah ada dari beberapa tingkatan, mulai dari paud, SD, SMP, SMA sederajat, dan perguruan tinggi. Fasilitas pendidikan secara formal dan bentuk fisik sudah dapat kita lihat memadai, namun secara realitanya ada ketimpangan didalamnya.

Perguruan tinggi contohnya, merujuk kepada Tri Dharma Perguruan Tinggi, seharusnya pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat harus dapat terjalankan demi terwujudnya agent of change, gerakan perubahan dari mahasiswa seharusnya dapat memberikan kontribusi dalam mewarnai negara ini. Hari ini banyak dari mahasiswa yang harus terbentur oleh gerakan - gerakan pragmatis, suara - suara kritikan sudah jarang terdengar ditelinga kita, akan tetapi bila mana kita ketahui maha yang bergelar siswa itu seharusnya menjadi moral force untuk mengakselerasikan segala peristiwa yang terjadi di negeri ini. Maka tidak heran bila mana pemimpin disekitar kita, duduk nyaman diruangan yang full AC dan sofa lembut hingga tertidur tanpa adanya gerakan subversif dari kita.

Pelacuran dalam dunia pendidikan seolah tidak menempati posisi tindakan kriminal. Sementara terhadap pelacur jalanan, berbagai ungkapan miring dilayangkan. Inilah hebatnya pelacur yang memiliki gelar akademis. Ia bisa saja membenarkan perlakuannya dengan alasan yang masuk akal melalui penipuan terhadap orang-orang yang diidentikkan dengan kebodohan.Pelacur intelektual lebih berbahaya dari pelacur jalanan, pelacur intelektual merugikan jutaan rakyat. Sangat miris jika bangsa yang terkenal dengan sumber daya alam yang melimpah ruah harus hidup di bawah garis kemiskinan. Selain itu, citra masyarakat tertinggal diperkeruh oleh oknum intelektual yang suka mencuri hak rakyat. Keilmuan yang dimiliki seolah hanya diperuntukkan untuk menelikung kepercayaan rakyat. Sayangnya, bagi negara kita manusia jenis inilah yang dijadikan panutan. Seperti yang dilansir fenomena-fenomena pelacur intelektual lainnya terjadi pada momen-momen politik. Menjajakan intelektualitas untuk memuaskan nafsu orang-orang yang bersedia membayar dan sangat senang bila direkrut menjadi konsultan politik partai, tim sukses dan mengeluarkan hasil survei abal-abal yang tujuannya mendongkrak elektabilitas calon yang membayar.

Kita semua tau bahwa politik adalah tergantung ditangan siapa ia sedang berada. Padahal semestinya, dunia intelektual mengendalikan dunia politik agar kekuasaan tidak melenceng dari aras moralitas dan kesejahteraan bersama. Tapi kenyataanya, politik yang justru mengendalikan intelektual untuk memberikan pembenaran-pembenaran. Teman-teman pembaca, pantas saja Soe Hok Gie mengatakan lebih baik diasingkan daripada menyerah didalam kemunafikan. Pernyataan ini dapat saya ambil, mempertahankan nilai - nilai idealis dalam diri seseorang itu hal yang susah. Menjadi apatis dan mengikuti arus adalah pilihan, namun bagiku menjadi merdeka adalah sebuah jalan walaupun akan dimarginalkan. Lebih baik tidur dijalan bebas kapan hendak tidur daripada tidur di istana mewah, waktu untuk memikirkan kebaikan saja harus dibatasi.

Nah mungkin ini adalah narasi yang singkat dari penulis, yang pada hakikatnya kita pasti ingin tidur nyenyak, makan enak, dan kerja yang nyaman. Namun menjadi takut hanya membuatku kerdil di hadapan tuhan. Selamat merefleksikan diri dan momentum hari pendidikan mari kita jadikan sebenar-benarnya proses memanusiakan manusia yang manusia.

"Bidang seorang sarjana adalah berfikir dan mencipta yang baru, mereka harus bisa bebas dari segala arus masyarakat yang kacau. Tapi mereka tidak bisa terlepas dari fungsi sosialnya. Yakni bertindak demi tanggung jawab sosialnya, apabila keadaan telah mendesak. Kaum intelejensia yang terus berdiam di dalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua kemanusiaan."
-SOE HOK GIE

Author: Nasir Ahmad Khan Saragih

1 Response to "Mengaku Intelektual Tetapi Mental Karbitan"

  1. Perguruan tinggi khususnya adalah tempat untuk mengasah akal, akan tetapi yang sering terlihat hanya dijadikan sebagai tempat Ibadah.


    #Perguruan tinggi islam

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel