Terserah Bukan Berarti Pasrah

Akhir-akhir ini kata terserah memenuhi tagar di berbagai media sosial, seakan melontarkan pernyataan yang sudah seperti lelah berjuang dalam segala keadaan yang ada. Bila mana merujuk dari kata terserah, semua orang memiliki makna tersendiri dalam memahaminya dan sebenarnya kata terserah menurut saya adalah jawaban yang kurang baik bila diterima dan mungkin teman pembaca sekalian. Bagi sebagian kalangan laki-laki atau perempuan bila diberikan pertanyaan dan dijawab dengan kata terserah, biasanya otak seperti kebingungan dalam berfikir dan hati merasa tidak enak dengan jawaban itu.
Memaknai beberapa pernyataan tentang kata terserah, ada beberapa rujukan keputusan yang hari ini sangat viral di mata banyak orang, misalnya keputusan tentang PSBB, semua warga membanjiri mall setelah kelonggaran dalam PSBB. Ada juga tenaga medis yang berjuang sampai mati-matian dilihat dari keputusan juga seperti hal yang sia-sia. Belum lagi keputusan tentang UU omnibus law, penurunan UKT dan banyak hal yang lain mengatakan mosi tidak percaya terhadap beberapa kebijakan yang dilakukan.

Menanggapi permasalahan yang diatas, penulis memaknai kata terserah adalah kata bentuk kepasrahan namun sebenarnya peduli terhadap situasi dan kondisi yang ada pada saat ini. Namun yang namanya kebijakan seharusnya dipikirkan matang-matang agar tidak terjadi blunder tersendiri bagi kita. Harga minyak mentah dunia sudah turun namun harga BBM belum juga ada pertanda buat turun. Tagar #indonesiaterserah bukanlah hal yang sebenarnya lucu dalam sekilas, namun sebenarnya memiliki makna yang cukup besar bila mana kita memahaminya. Itu sekilas membahas tentang kata terserah dalam keviralan yang hari ini ada di berbagai media.

Kita tarik didalam kehidupan sehari-hari, kata terserah sebenarnya menunjukkan keputusan yang sudah pasrah namun seperti enggan untuk menerimanya. Didalam kehidupan seberapa sering kita mengutarakan kata terserah, sebenarnya bila kita ketahui ini adalah kata yang bisa membuat kesalahan. Contohnya saja bila mana mengambil keputusan kita mengatakan kata terserah seakan menyerahkan segala sesuatu kepada si pengambil keputusan dan jeleknya lagi bila keputusan itu jelek, protes adalah tindakan yang pertama kali kita lakukan.

Sebenarnya saya sedikit bingung melihat beberapa orang yang seperti ini, termasuk saya juga, namun ketika saya memahaminya adalah kata terserah boleh saja kamu katakan, bila keputusan yang akan kamu ambil adalah hal yang baik. Disinilah jatuh konsep terserah bukan berarti pasrah. Saya hanya ingin mengatakan kepada teman-teman semua, jangan terlalu sering mengatakan kata terserah bila tidak ingin rugi dan menyesal. Contohnya saja seperti ini " kita udahan yah " jawabannya adalah terserah. Dari pernyataan diatas apakah kita dapat mengambil kesimpulan tentang itu ? Bila banyak penjelasan yang masih bisa keluar dari mulut, kenapa harus penyesalan yang kita inginkan ? Padahal bahagia adalah sepenuhnya harapan yang kita inginkan. Sebenarnya yang banyak didunia ini ada dua menurut saya, pertama bui dilautan dan yang kedua alasan yang keluar dari mulut. Gunakan hak bicaramu sebelum berbicara adalah suatu yang tak mungkin untuk kamu lakukan. Karena ketika terserah sudah keluar, kamu tidak akan dipedulikan.

"Hukum Tertinggi Adalah Keselamatan Rakyat (Salus Populi Suprema Lex Esto)."

Author: Nasir Ahmad Khan Saragih

0 Response to "Terserah Bukan Berarti Pasrah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel