Akulah Insan Akademis Itu

Menjadi manusia merdeka adalah keinginan semua orang, namun yang namanya manusia merdeka hanyalah sebuah cerita yang konon katanya itu dapat membuat bahagia. Kalau Tan Malaka bilang, idealis adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda. Kategori pemuda banyak pendapat pakar tentang psikologi dan kesehatan menyatakan mereka yang berumuran 18-35 tahun. Konon katanya pemuda itu banyak mengasah dirinya menjadi seorang promotor roda keadilan dan kesejahteraan dikampus-kampus.
Bila merujuk kepada pengertian kampus, mungkin kita banyak yang sudah mengetahuinya namun tidak mengerti apa peranannya, ia yang duduk diperguruan tinggi dimulai dari tingkatan diploma, sarjana, magister dan doktor. Perguruan tinggi bertujuan untuk mengasah kemampuan yang dimiliki mahasiswa dan mahasiswinya dengan harapan agar bisa mencapai ketiga point dari Tri Dharma perguruan tinggi merupakan tiga pilar dasar pola pikir dan menjadi kewajiban bagi mahasiswa, yang terdiri dari:

1.Pendidikan dan Pengajaran
2.Penelitian dan Pengembangan
3.Pengabdian Kepada Masyarakat

Hemat saya pribadi, menjadi mahasiswa memang ada saja tingkahnya. Mereka berhak memilih jalan hidupnya untuk menentukan siapa dirinya dalam bertarung secara akademisnya. Kita sama-sama mengetahui menjadi mahasiswa bukanlah suatu yang mudah. Lihat saja, sebagai agent of change, social of control, dan iron of stock banyak dari kita yang lalai akan makna itu. Kita lebih sibuk memikirkan isi perut kita yang kurang banyak dan sedikit bersyukur daripada nasib mereka yang masih sedih mendengar bilamana suara piring dan sendok berlaga diruang dapur. Konon katanya juga mereka sebagai orang yang kritis sudah hilang tajinya dibawah tekanan yang subversif dimana-mana.

Buktinya saja saat mereka bersuara menyampaikan jeritan para rakyat harus terluka dihantam belati yang hampir nyaris bikin mati. Katanya juga kritikan mereka terdengar dimeja para penguasa, masa iya ketika memberikan kritikan masuk kedalam ruangan 3X3 tanpa persimpangan. Benar-benar bingung menjadi mahasiswa yang dimaksud dengan ini semua ? Memilih jadi idealis juga dianggap sadis, padahal kita butuh pergerakan dibawah permainan yang sudah tidak karuan. Menjadi insan akademis yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur saja mungkin kami belum bisa. Oleh sebab itu terwujudnya itu semua kami butuh diasah mungkin, karena kebenaran tak akan pernah mati bukan ?

Mau mengakui kegagalan, padahal jalan perjuangan masih begitu amat panjang. Balik kekampung tanpa perubahan dikira akan membuat kegaduhan. Sayangnya saja, hanya suara mahasiswa yang katanya dulu bisa menggoncangkan ketidakadilan kini harus sampai di persimpangan kebingungan tanpa kepastian. Mari kita putar balik teman-teman, sayangnya perjuangan kalian harus banyak makan korban. Kita gagal, namun bukan berarti kita pasrah, panjang umur segala perjuangan.

Substansi yang menurut penulis sangat relevan adalah sesuai pernyataan yang Cak Nur ungkapkan tentang "Masyarakat Madani", menggambarkan Masyarakat Madani sendiri dikutip digambarkan oleh Al-Qur'an "Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur" sebuah negeri yang makmur, tentram, aman dengan sistem pemerintahan yang baik, disetujui Negeri saba pada saat di pimpin Ratu Balqis dan Raja Sulaiman. Semoga kebenaran itu akan terungkap sampai tidak ada lagi diantara kita yang harus terluka saat di tinggal nikah, eh maksudnya terluka ketika kelaparan melanda. Baik kelaparan keadilan dan kelaparan makanan.

"Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah. Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya."
-Soe Hok Gie

Author: Nasir Ahmad Khan Saragih

1 Response to "Akulah Insan Akademis Itu"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel