Ikhfa dalam Rasa, Izhar dalam Doa

Sekuat kaki berdiri didalam pendirian, sebulat tekad yang penuh semangat, setegak pengharapan diatas kepercayaan, dan sehebat doa yang tak pernah berhenti didalam meminta. Bagi semua orang jatuh cinta adalah hal yang fitrah, bagi beberapa yang pernah kecewa itu adalah sebuah pelajaran, dan bagi secercah harapan itu adalah segala bentuk kesabaran didalam menunggu kepastian.

Didalam sebuah kehidupan ada yang bisa saja tumbuh menjadi besar dan ada saja yang memudar secara berkabar, da adalah rasa. Datang tanpa aba-aba dan pergi tanpa berita. Jatuh cinta terhadap seseorang adalah hal yang wajar.

Banyak diantara kita yang mengungkapkan rasanya secara terang-terangan, secara bersamaan, dan secara mengesankan. Namanya juga hidup ada saja cerita didalamnya. Secara garis besar bila mana kita artikan ikhfa adalah sembunyi, samar-samar, dan tidak terlihat. Sedangkan Izhar adalah jelas, terang-terangan.

Semua orang berhak untuk jatuh cinta dan bahagia, dan semua orang juga berhak atas bagaimana ia memperlakukan ketika ia jatuh cinta. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah mencintai dalam diam bukanlah sesuatu yang untuk diragukan, mengagumi dalam sepi bukan berarti tidak ingin memiliki. Ada saja alasan mengapa bahagia tidak harus serta merta mengikuti orang lain. Karena menurut saya bahagia itu diciptakan bukan dicari. Maka tak heran ada yang patah ketika terjerembab ke dalam nestapa cinta.
Pernahkah kau mengkonversikan cinta dalam doa ? Saat kau teringat tentang dia lalu kau mendoakannya, saat kau tiba-tiba merindunya kau sampaikan dalam simpul-simpul doa, tak usah memberitahunya, cukup berdoa saja.

Ada yang pernah mengalaminya ? Meminta disepertiga malam tanpa henti, berharap dengan sepenuh hati untuk bisa bersatu. Ada yang lebih hebat dari penantian, yaitu ia yang tak pernah mengatakan cinta dan sayangnya kepadamu secara terang-terangan, namun mulut tak pernah berhenti untuk selalu mendoakan.

Sekuat apapun kamu menahan jika dia jodohmu kamu tak akan bisa menolaknya, sama halnya seperti itu sekuat apapun harapan kamu untuk bersama jika dia bukan takdirmu maka bersabarlah.

Izhar dalam doa adalah kata kunci ketika rasa itu tumbuh pada waktunya, namun hanya bisa senyum-senyum pada saat mengaguminya dari kejauhan. Maka bersabar dalam penantian tak pernah menjadi penyesalan. Tidak perlu tergesa-gesa, pada akhirnya perkara hanya ada dua, menjadi bukan siapa-siapa, mengabdi tanpa apa-apa.

Bagiku perihal rasa bukan hal yang untuk dieja, apalagi ada jeda didalamnya. Dia akan terpatri didalam hati dan sampai kapanpun tak akan tereliminasi. Sekuat kata benci yang pernah keluar, sehebat ego yang pernah ada, yang namanya cinta akan tetap ada, dan dia akan tumbuh berkembang, kalau tidak berujung didalam kepastian maka pastikan dia adalah kenangan.

Sebelum muncul rasa nyaman, pastikan itu cinta. Sebelum muncul rasa benci, pastikan itu sayang. Sebelum semuanya hilang, pastikan itu bukan kata perpisahan. Karena mencintai dalam diam bukan serumit rumus fisika dan kimia dan tidak sesulit mengerjakan soal matematika. Menyebutnya tanpa henti, membisikkan namanya tanpa diketahui, itu adalah anugerah.

Teruntuk kamu yang mencintai dalam diam adalah pilihan, kalimat yang keluar dari mulutmu adalah doa dan harapan yang kamu inginkan adalah kepastian.

"Dipeluk erat duka, kau kecup erat lara. Sampai kapan sunyi lebih kau cintai dari pada jatuh hati kembali ?"

Author: Nasir Ahmad Khan Saragih

4 Responses to "Ikhfa dalam Rasa, Izhar dalam Doa"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel