Mengeja Rasa Dipuncak Kebingungan

Sebanyak bui dilautan, sekuat ombak yang menerpa karang, dan sehebat itu keraguan selalu menjadi juara diatas kebingungan. Kecantikan dan ketampanan rupa hanya membuat sebagian orang menatap, namun kecantikan dan ketampanan akhlak membuat orang akan menetap. Beberapa rasa yang tak bisa dieja adalah sebuah kebingungan yang tiada tara diantara beberapa mereka yang sedang bingung didalam rasa.
Kata isi kepala, tak perlu bertahan berlama-lama untuk memendam rasa. Namun hati selalu menjawab, trauma yang bagaimana lagi yang akan tiba sementara rasa yang pernah ada sampai sekarang masih menetap didalam sana.

Perihal rasa tak ada habisnya, ada yang pernah sayang tapi sudah lebih dulu memilih untuk hengkang, ada yang suka mengekang padahal bukan membuat tenang, dan ada yang benar-benar tak sama sekali terpikirkan dia adalah yang serius didalam mengatakan perasaan. Terkadang cukup membingungkan dan terkadang juga membuat penasaran.

Kata orang memilih untuk jalan sendiri adalah yang terbaik, namun beberapa diantara kita harus ter-iris untuk menangis dibalik rasa yang kadang suka sebercanda itu. Perihal kebingungan adalah perihal manusiawi, namun perihal penasaran terhadap perasaan kita sebut sebagai sesuatu yang kurang ajar bukan ?

Masa iya dia yang pernah terluka hatinya, patah jiwanya, dan runtuh semangatnya dicoba mengulang kembali kepada rasa yang sama. Katanya orang bijak adalah orang yang mau memperbaiki diri, namun kenapa hati masih patah didalam rasa yang sudah antah berantah.

Selucu ini kisah dibalik rasa yah ? Dibatas penantian yang terlalu lama, mengapa ada saja musuh yang ingin menumbuhkan rasa dibalik hati yang sudah terjaga. Apakah semudah itu untuk berpaling, atau mungkin saja kita kadang suka pangling ?

Belum juga ada kejelasan sampai kapan kita menerka kemungkinan dan memeluk kesunyian ? Bagaimana mungkin kita bisa lupa, dia yang beberapa waktu lalu setia dan ada dalam setiap luka kini malah dia yang harus menjadikan luka itu makin parah.

Dikoyak-koyak didalam kebingungan adalah hal yang sangat menyakitkan bukan ? Bukankah sumpah serapah mengatasnamakan cinta pernah terucap dari bibir manis yang berakhir tragis. Sudahlah, lagi-lagi berdamai dengan sesuatu yang dinikmati untuk dilihat setidaknya adalah pelajaran sebelum ia akan memilih untuk menetap.

Sebenarnya semua rasa diantara kita adalah denganmu, seringkali mematahkan hati. Tapi pergi darimu, belum terpikirkan sama sekali. Semoga parasit yang menjamur yang menjelma rasa didalam kebingungan itu akan segeranya hilang ditelan kesadaran. Hingga benar-benar keduanya diantara kita memilih untuk bersama. Kalau pun tidak bisa setidaknya pernah mengisi waktu senggang dan bercerita sehangat senja dan sekuning jingga.

"Semua tentangmu adalah pilu, dan semua tentangku adalah benalu di masalalumu."

Author: Nasir Ahmad Khan Saragih

3 Responses to "Mengeja Rasa Dipuncak Kebingungan"

  1. Doge Pilu, dicurahkan dlm bentuk yg keren. Hasilnya ya keren....

    BalasHapus
  2. Kok ngena gini ya. Apakah mungkin karena baru putus dalam bercinta. Aahhh sudahlah..

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel