Jatuh Hati Ditengah Pengabdian

Ada saja perihal rasa, menjelma suka berubah, hingga tumbuh tanpa dipaksa dan berbuah cinta tanpa diminta. Kisah itu dimulai ketika sudah mulai dari saling sapa, tanya kontak whatsapp, lanjut dari dm-an sampai tumbuh rasa bernamakan sayang ditanah pengabdian.

Sebelum semuanya muncul, banyak cinta yang hadir berlalu lalang mendatangi. Dia menyapa, lalu berniat singgah. Tapi diantara kita masih saja bungkam tanpa suara. Diam dan berteman dengan rasa. Sesingkat itu rasa timbul dan secepat itu ia muncul.

Kata orang jatuh untuk cinta tak pernah melihat siapa itu orangnya,nasal sudah mulai timbul rasa ada saja salah tingkah dalam langkah.
Ditanah pengabdian itu sebenarnya jadi guru dalam memahami banyak karakter manusia, namun kenapa harus ada rasa didalam pengabdian itu. Sebenarnya tak ingin untuk diungkapkan namun apalah daya, kejadian dimasalalu selalu mengingatkan hal-hal yang baik untuk masa depan yang cerah pula. Kita adalah dua rasa yang dipertemukan dalam dunia bernama pengabdian, entah berlanjut atau dibiarkan surut.

Namun kata pikiran, fokus saja pada pengabdian, namun kata hati berikan saja perasaan itu dalam nama hubungan. Namun menurutku, kenapa harus secepat itu pula cinta harus terungkap, bukan memahami satu sama lain adalah hal yang harus diperhatikan terlebih dahulu. Katanya kalau memilih pasangan harus sejalan dan sepaham, karena sepaham saja tidak cukup. Kata orang juga kalau memilih pasangan harus bisa memasak untuk perempuan dan harus bertanggung jawab bagi laki-laki. Ingat kamu butuh pasangan bukan rumah makan apalagi jadi petugas keamanan.

Semoga saja rasa itu terungkap dengan sendirinya, tanpa ada kata, kita adalah rasa yang tepat diwaktu yang salah. Karena luka kemarin masih sangat membekas, tertata rapi walaupun sudah mulai lapuk diterpa semangat untuk bangkit kembali. Sampai berdamai dengan diri sendiri. Bahwa sesakit dan sesesak apapun. Dunia tetap berjalan dengan semestinya. Mobil motor yang lalu lalang, suara klakson, riuhnya keramaian. Tidak ada yg berubah walaupun kita bersedih meratapi sakit semua tetap akan berjalan dengan semestinya. Tetap semangat ditanah pengabdian, entah itu pelajaran, perasaan, bahkan hubungan. Rawat saat tumbuh, jaga selagi ada, dan berikan janji tanpa pengkhianatan.

"Senja asa berujar, menarik akar dengan kelakar, menghancurkan sepasang burung kembar. Insan mana yang tega membuat senja merindu atas kerinduan yang menuntut temu. Dibawah senja yang sesaat kembali menunggu."

Author: Nasir Ahmad Khan Saragih

2 Responses to "Jatuh Hati Ditengah Pengabdian"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel