-->

Becandanya Buat Sayang, Sayangnya Cuma Becanda

Padamu yang kuanggap bahagia, padamu juga yang kuanggap semangat, ternyata jauh sebelum melangkah semesta sudah lebih dulu memberi tahunya, bahwa engkau adalah ia yang kuanggap bahagia yang menjelma. 

Pada dirimu kuberanikan untuk kembali membangun rasa, padamu juga kuletakkan sebuah perasaan, namun denganmu semua hanyalah lamunan. Dengan dirimu ku belajar untuk menghargai diri sendiri, bersama dirimu ku memperbaiki diri dan tanpamu juga diriku akan menjadi yang lebih baik. 

Kenapa harus suka berpura-pura ? Kalau lah memang dirimu datang hanyalah untuk singgah, sudah semestinya, segala bentuk peduli tidak harus dibalas dengan hati. Beberapa luka beranjak untuk sembuh, namun beberapa rasa kembali untuk tumbuh, sampai tiba ia akan kembali layu.

Ingat kah, bagaimana dirimu memperlakukanku ? Layaknya dua orang yang bertemu ketika mengalami trauma mendalam. Diantara kita saling menguatkan, hingga diantara kita saling berusaha melupakan. Tutur sapa mu, mengajarkan tentang bagaimana menjadi manusia yang manusia, namun perasaanmu yang tanpa balas itu, hilang seperti tidak manusia.

Memang benar, perasaan tak selamanya harus berbalas dengan kepastian. Namun sikap dan kebiasaanmu membuat orang nyaman. Apakah engkau hadir hanya untuk memberi asupan diri untuk selalu kepikiran ? Atau engkau datang hanya untuk memberikan rasa nyaman ?

Sepanjang mulut mengucap, sesering itu kupanjatkan namamu, agar engkaulah orang yang berada di titik temu itu. Padamu kutanamkan rasa sayang, denganmu kutitipkan rasa nyaman, semoga kita bertemu pada rasa yang akan bersatu.

Bercanda mu yang menumbuhkan rasa sayang, namun diriku baru ingat, sayangmu cuman sekedar candaan. Tetap melangkahlah walaupun terasa berat, namun ingat dulu kita pernah mengucapkan doa yang sama dan keinginan yang sama, tidak ada luka lagi setelah pertempuran atas hati di masa lalu. 

Siapapun mereka di masa lalu, maka pastikan kita yang akan berada di masa depan. Jangan pernah berhenti mengingatkan, sebelum kita akhirnya saling melupakan.

"Ingin pasrah tapi masih merasa bisa, ingin kalah tapi nyali masih menyala, resah tapi malu bertanya. Jiwaku goyang, semoga tidak tumbang. Ingat tidak perlu tergesa gesa, pada akhirnya perkara hanya ada dua. Menjadi bukan siapa siapa, mengabdi tanpa apa apa.


Author: Nasir Ahmad Khan Saragih

3 Responses to "Becandanya Buat Sayang, Sayangnya Cuma Becanda"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel