-->

Kita Yang Tinggal Kata

Apapun yang terjadi di dalam hidupmu, percayalah bahwa kamu berharga dan pantas untuk dibahagiakan. Terjatuh berkali-kali tidak menghancurkan hatimu. Sebab semakin banyak kegagalan semakin banyak juga pelajaran. Belajarlah mencintai diri sendiri dan menerima apa adanya dalam semua kondisi.

Mungkin terlintas didalam pemikiran kita, setelah runtuh dan pada akhirnya harus jatuh, mencintai diri sendiri adalah hal yang pertama kali terfikir. Wajar, namanya juga sedang sakit hati, memperbaiki dan terus berbuat baik untuk diri adalah misi.

Ada yang datang dan pergi dalam hidup kita. Yang dulunya hanya insan biasa tapi kini menjadi istimewa dihati sekelip mata. Namun yang indah tak selamanya sentiasa bersama kita. Siapapun mereka dihati kita dahulu dan kini, semoga doa-doa itu tak akan berhenti secepatnya. 

Penulis ingat kalo kata Neitszhe, tentang teori kebenaran yang dapat penulis sederhanakan kesimpulannya, kalau kita memandang dari sudut pandang diri kita, orang yang kita kasih sekalipun akan tetap salah dalam pandangan kita, begitu sebaliknya. Namun satu hal yang penting adalah, terkadang kita tak pernah menyadari bahwasanya, kita juga salah, namun lagi-lagi emosi kita selalu menjadi pemenang dalam hati dan pikiran kita.

Terkadang kita terlalu lebih membawa perasaan, sampai lupa membawa pikiran. Oleh sebab itu, ketika kita kecewa, lagi-lagi kita merasa menjadi diri kita adalah yang paling benarnya. Kita juga terlalu percaya, tanpa sadar bahwasanya manusia bisa berubah kapan saja, dan dimana saja.

Dan ternyata hadirmu hanya sekadar mampir, mampir untuk sejenak menyamar sebagai sebuah takdir, mampir sebagai sebuah kisah yang hampir, mampir yang membuat rasa ini tak kunjung berakhir, dan mampir untuk mengukir kenangan yang begitu getir.

Apapun itu yang terjadi, penulis cuma mau bilang, kita sama-sama sedang berjuang, entah itu berusaha melupakan, atau berusaha merubah keadaan supaya memperbaiki keadaan. Apapun yang telah menjadi kisah dan cerita, biarkan ia berada disana, didalam ingatan kehidupan, kalau pun ia hanya sekedar cerita yang singgah. Namun kita tetap bangga bukan ? Mampu berdiri walaupun dipatahkan berkali kali, mampu tersenyum walaupun disakiti berulang kali. Jangan dilupakan, dijalani saja, terkadang kita harus berada di zona yang atmosfernya berbeda, supaya lebih terasa bahwasanya kita berhak bahagia.


"Dan salah satu hal yang menyakitkan dari sekadar perpisahan adalah, ketika sama-sama memiliki rasa, tapi tidak ditakdirkan untuk bisa bersama."

Author: Nasir Ahmad Khan Saragih

2 Responses to "Kita Yang Tinggal Kata"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel